Rabu, 08 November 2017

Mengenal Lebih Dalam tentang Joeragan Artikel

November 08, 2017 0 Comments
Mendengar kata “Juragan Beras”, kebanyakan orang tentu membayangkan oang kaya yang penghasilannya dari berjualan beras. Itu wajar, karena profesi sebagai pedagang beras sudah jamak dilakukan orang. Tetapi mendengar kata “Joeragan Artikel”, kebanyakan orang pasti merasa asing.

“Joeragan Artikel” yang akan saya ulas berikut pun, sebetulnya tidak jauh berbeda dengan juragan beras. Ketika mendengarnya pertama kali, saya juga merasa sangsi. Mungkinkah? Adakah? Tetapi seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi yang kian pesat, rasanya tak ada yang tak mungkin.

Joeragan Artikel adalah sebuah agensi naskah sekaligus pusat pelatihan kepenulisan yang didirikan oleh Ibu Sri Kuswayati atau lebih dikenal dengan nama Ummi Aleeya. Agensi ini telah bekerjasama dengan Indscript Training Center, sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Indscript Creative pimpinan Ibu Indari Mastuti. Ibu Indari Mastuti sendiri sarat pengalaman karena telah lama berkiprah dalam dunia tulis menulis di Indonesia dan telah menghasilkan puluhan judul buku.
Pelatihan atau training kepenulisan di sini diadakan khusus untuk perempuan, baik yang sudah menikah maupun yang masih single. Kenapa perempuan? Karena sebagaimana Indscript, Joeragan Artikel pun konsisten berperan aktif memberdayakan perempuan Indonesia khususnya melalui dunia bisnis dan menulis. Secara bertahap, peserta akan dibimbing untuk membuat artikel atau tulisan yang berkualitas.

Berbagai macam training di Joeragan Artikel diadakan secara online, sehingga mampu menjangkau peserta dari segala penjuru, sepanjang terkoneksi dengan internet. Biasanya kelas diselenggarakan di grup tertutup di Facebook atau WhatsApp, pada hari dan jam yang telah ditentukan sebelumnya. Para peserta cukup duduk manis di tempat masing-masing sambil menyimak materi yang disampaikan para mentor. Jika menginginkan, para peserta bisa sambil ngemil, momong anak atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Santai tapi serius.

Karena online, tak perlu takut ketinggalan materi walaupun saat kelas berlangsung peserta terlambat menyimak atau sambil mengerjakan hal yang lain. Materi bisa disampaikan melalui pesan tulisan, pesan suara dan e-book. Materinya mudah dipahami, bahkan untuk pemula sekalipun.
Mengenai mentor, tak perlu diragukan lagi. Mereka tak hanya keren, tapi memang professional. Di antaranya adalah Ummi Aleeya sang pendiri JA, Teh Indari Masturi, Ibu Anna Farida, Ibu Eni Rahayu, Teh Winny Lukman dan lain-lain.

Saat kelas berlangsung, selain mentor juga ada moderator yang mengawal proses belajar. Setelah penyampaian materi, akan ada sesi tanya jawab. Peserta bisa bertanya secara langsung tentang hal yang masih belum jelas pada para mentor. Moderator akan merangkumnya, dan mentor akan memberikan penjelasan kembali di dalam kelas, sehingga peserta lain pun bisa menyimaknya. Bila masih ada hal yang perlu ditanyakan, para mentor dengan senang hati bersedia dihubungi melalui jalur pribadi.

Keuntungan mengikuti training di Joeragan Artikel adalah, setelah masa training ada pendampingan dalam kurun waktu tertentu. Peserta yang sudah lulus akan menjadi kontributor di emakpintar.org dan akan dimasukkan dalam grup alumni JA. Di dalam grup alumni ada proyek atau peluang pekerjaan yang sering ditawarkan, baik dalam hal menulis, editing maupun endorsement.

Beberapa training atau latihan kepenulisan yang biasa diselenggarakan di Joeragan Artikel antara lain Kelas Penulisan Biografi, Kelas Status Cantik, Gampang Bikin Artikel, Jebol Media, Training Liputan, Teknik Membuat Artikel Copywriting Joss bagi Penulis, Kelas Editor, Training Laris Jual Jasa Penulisan dan lain-lain. Training dibuat sesuai kebutuhan pasar sehingga usai mengikutinya diharapkan peserta dapat langsung berkarya dan menghasilkan uang.

Dalam waktu dekat berikut jadwal training yang akan diselenggarakan:
1. Kelas Status Cantik, 9 November 2017
2. Training 15 Langkah TOP Memulai Bisnis Jasa Penulisan, 11 November 2017.
3. Training Laris Jual Jasa Penulisan, 14 November 2017
4. Teknik Membuat Artikel Copywriting Joss bagi Penulis, 15 November 2017.
5. Training Liputan, 17 November 2017.
6. Gampang Bikin Artikel & Jebol Media, 21 dan 28 November 2017.

Dengan mengikuti training Joeragan Artikel, peserta bukan hanya lebih percaya diri dalam menulis tetapi juga akan memiliki lebih banyak relasi. Dan setelah mengenal lebih jauh tentang Joeragan Artikel, siapapun bisa menentukan training yang hendak diikuti sesuai kebutuhannya.

Minggu, 05 November 2017

Menjemput Impian Bukan Khayalan

November 05, 2017 0 Comments
Sosok yang saya tulis ini bukanlah tokoh terkenal. Tetapi saya sudah mengenalnya sejak 18 tahun yang lalu. Bagi saya, kisah hidup dan perjuangan beliau sangat inspiratif.

Namanya Darminto. Usia beliau saat ini 43 tahun. Terlahir di Nganjuk, beliau adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Orang tuanya adalah sepasang suami istri yang sangat sederhana. Kondisi ini membuat masa kecil beliau terbilang lekat dengan keprihatinan.

Sang Ibunda pernah bercerita, rumah yang mereka tempati adalah bekas kandang ayam. Begitu prihatinnya hidup mereka hingga suatu ketika, bantuan susu dari pemerintah untuk Darminto kecil, terpaksa dijual untuk membeli beras, agar mereka sekeluarga bisa makan. Bila anak-anak kecil yang lain sering mendapat hadiah mainan dari orang tuanya, Darminto kecil nyaris tak pernah mendapatkannya. Tentu bukan karena orang tuanya yang tak ingin memberi, tapi keadaanlah yang memaksa demikian.

Memulai pendidikan formal dengan duduk di bangku SD, Darminto kecil betul-betul mengawalinya dengan belajar membaca, menulis, mengenal angka dan berhitung. Hal itu lantaran beliau tak pernah merasakan indahnya masa kecil dengan bermain sambil belajar di Taman Kanak-kanak. Jadi saat saya tanya judul lagu anak TK favorit beliau, beliau malah menjawab, “Apa ya?” sambil tertawa.

Semasa di SD, Pak Darminto sempat tinggal kelas selama dua tahun karena sakit parah hingga tak bisa hadir di sekolah selama berbulan-bulan. Entah sakit apa yang beliau derita. Yang pasti, saat itu beliau sempat koma hingga tiga mingguan lamanya. Rasanya seperti mendapat keajaiban dari Allah ketika mendapati Darminto akhirnya bangun dari tidur panjangnya, demikian dituturkan Ibundanya pada suatu ketika.

Rasa syukur tak terhingga Pak Darminto panjatkan ketika akhirnya beliau berhasil menamatkan Sekolah Dasar dengan lancar, bahkan diterima di SMPN 1 Nganjuk. Walaupun senang, sempat pula rasa minder singgah di hati Darminto muda, mengingat sekolah tersebut dikenal sebagai sekolah elit. Siswa siswinya umumnya adalah anak-anak pejabat atau orang berada.

Dibanding teman-temannya, kesenjangan secara ekonomi maupun sosial beliau, sangatlah jauh. Walaupun nyaris tak memiliki prestasi yang berarti saat duduk di bangku SMP, Darminto muda merasa bahagia bisa menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Beliau sadar, bahwa kini beliau adalah kebanggaan bagi keluarganya, mengingat hanya beliau seorang dari tujuh bersaudara yang berkesempatan duduk di SMPN 1.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Di tengah kebahagiannya bersekolah, ayahandanya tiba-tiba sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Kepergian sang tulang punggung utama keluarga mengguncang batin Darminto muda. Beliau gamang tentang kelanjutan pendidikannya. Beruntung, salah seorang kakak meyakinkannya untuk tetap melanjutkan sekolahnya.

Walaupun tertatih, pendidikan SMP akhirnya terselesaikan dengan lancar. Sadar akan keterbatasan biaya, Darminto muda memilih sekolah kejuruan sebagai kelanjutan pendidikannya. Beliau mengambil jurusan Bangunan Gedung di STM Negeri Nganjuk.

Semangat belajarnya yang tinggi membawanya pada keberuntungan. Selama tiga tahun menempuh pendidikan di STM, beliau selalu menduduki peringkat tiga besar di kelas. Prestasi ini membuat beliau terpilih untuk menerima beasiswa Super Semar. Hal ini sangat membantu kelangsungan belajarnya, karena sang kakak yang membantu biaya sekolahnya juga masih berstatus sebagai pelajar di sekolah menengah.

Tiga tahun di STM dengan segala suka dukanya, akhirnya hari kelulusan pun tiba. Saat itu tahun 1994. Memenuhi harapan Ibunda dan demi mencari pengalaman, Pak Darminto memantapkan diri pergi ke Bengkulu untuk memulai karirnya. Dengan bantuan salah seorang kakak, beliau diterima bekerja di sebuah BUMN sebagai Asisten Surveyor. Statusnya adalah sebagai pekerja harian dengan lokasi kerja di hutan di pedalaman Bengkulu. Upahnya saat itu hanya 300 ratus ribu rupiah.

Hanya setahun beliau di Bengkulu. Karena merasa pekerjannya sulit untuk membuatnya berkembang, Pak Darminto kembali ke kampung halamannya. Di Nganjuk, beliau menambah keterampilan dengan mengambil kursus komputer. Berbagai kesulitan yang dialami selama hidup di pedalaman Bengkulu, membuat beliau bertekad bahwa kelak anak-anaknya harus memiliki kehidupan yang lebih baik dari beliau.

Tak lama kemudian, Pak Darminto mendapat info lowongan kerja di ibukota. Bismillaah, hijrahlah beliau ke sana. Di Jakarta beliau diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan di bilangan Kalibata. Gaji yang minim membuat Pak Darminto tak mampu menyewa kamar kos, sehingga terpaksa tidur di kantor. Setiap malam, beliau menggelar kasur lipat di bawah meja kerjanya. Untuk urusan makan, nyaris setiap hari beliau tak jauh dari menu mi instan.

Sungguh bukan kondisi yang bisa dibilang nyaman. Tetapi semua harus disyukuri. Allah berjanji, bersama kesulitan, diberikanlah kemudahan. Walaupun kondisi keuangan Pak Darminto sangat pas-pasan, beliau mendapat rezeki dengan diberikannya training program AutoCAD secara gratis oleh atasannya. Padahal saat itu, kursus komputer untuk program tersebut terbilang mahal, apalagi untuk ukuran kantong beliau. Atasannya merasa senang, karena beliau tanggap dan cepat memahami materi yang diberikan.

Dua bulan tinggal di kantor, Pak Darminto akhirnya mendapat tumpangan di rumah salah sorang kerabat. Pekerjaan kerabat beliau adalah sebagai seorang anggota Paspampres. Hampir setiap hari kerabat beliau pulang tengah malam, bahkan dini hari. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Pak Darminto selalu menunggu sang kerabat pulang untuk kemudian mencuci mobilnya, walaupun di tengah malam.

Pak Darminto yang mulai memiliki banyak teman di Jakarta, akhirnya mendapat informasi tentang lowongan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik. Setelah sempat bekerja di sebuah perusahaan Mechanical dan Electrical, pada tahun 1997 beliau akhirnya diterima bekerja sebagai draftsman di sebuah perusahaan Jepang, yaitu PT. Indonakano.

Di perusahaan inilah beliau bertemu dengan salah seorang rekan kerja wanita yang kemudian dinikahinya, hanya tujuh bulan sejak mereka berkenalan. Tanggung jawab semakin besar, Pak Darminto pun semakin bersemangat mencari nafkah untuk keluarga kecilnya.

Demi perkembangan buah hati mereka yang lahir setahun pasca pernikahan, Pak Darminto memutuskan untuk meminta istrinya berhenti bekerja. Beliau mantap menanggung nafkah keluarga 100% di pundaknya. Selain sebagai karyawan di kantor, Pak Darminto juga berusaha menambah penghasilan dengan menerima pekerjaan freelance sebagai juru gambar.

Hidup memang tak semulus jalan tol. Setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja di perusahaan tersebut, Pak Darminto akhirnya terkena PHK karena suatu alasan. Tetapi beliau tetap optimistis menjalani hidup. Uang pesangon yang beliau terima karena PHK tersebut, beliau gunakan untuk membeli sebuah rumah kecil di daerah Depok, Jawa Barat.

Demi menyambung hidup, Pak Darminto sempat beberapa kali pindah kerja. Mulai dari bekerja di perusahaan stage builder, produsen boiler, serta beberapa perusahaan konstruksi. Bagi Pak Darminto, pindah-pindah kerja ke beberapa perusahaan berbeda bukanlah hal yang menakutkan. Karena beliau meyakini, rezeki dari Allah sudah ditetapkan. Tinggal beliau yang harus bersemangat menjemputnya.

Tak lama berselang, Pak Darminto diterima kembali bekerja di sebuah perusahaan Jepang, PT Takenaka Doboku. Banyak lika liku yang beliau alami. Beruntung, sang istri selalu setia mendampingi dan mendoakannya.

Sebuah kejujuran pada akhirnya membuat beliau menjadi tangan kanan atasannya yang notabene Warga Negara Jepang. Karirnya pun menanjak. Latar belakang pendidikan yang hanya sekolah menengah kejuruan, tak menghalangi beliau untuk menduduki posisi sebagai Project Coordinator.

Gaji beliau naik, kesejahteraan keluarga pun meningkat. Kendaraan roda empat yang dulu hanya impian, kini dapat beliau wujudkan. Alangkah bahagianya Pak Darminto, ketika beliau mampu sedikit memanjakan keluarganya dengan materi. Sesekali dibawanya keluarganya jalan-jalan ke tempat wisata atau mengajak mereka makan di sebuah restoran.

Sedikit disayangkan ketika Pak Darminto memutuskan keluar dari perusahaan tersebut. Tapi dalam hidup, manusia selalu dihadapkan pada pilihan. Dan Pak Darminto memilih pindah ke sebuah perusahaan yang membuat batinnya lebih tenang.

Ya, Pak Darminto kini bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan. Beliau adalah tangan kanan sang pemilik perusahaan. Walaupun hari-harinya nyaris selalu penuh dengan agenda rapat, beliau masih bisa menyisihkan waktu untuk bersilaturahim dengan seorang Tuan Guru atau Kyai.

Tak hanya materi, asupan batin yang dipenuhi dengan belajar agama mulai beliau tekuni. Keinginan beliau sederhana, seperti halnya keinginan seorang kepala keluarga pada umumnya. Beliau ingin agar istri dan anak-anaknya tidak mengalami kesulitan hidup seperti yang pernah beliau alami.

Tapi jikapun kesulitan itu harus terjadi, Pak Darminto berharap perjalanan hidupnya memberi hikmah bagi keluarganya. Bahwasannya seorang yang tangguh tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesulitan dan tempaan hidup. Maka dari itu, semangat belajar dan berkarya haruslah dipupuk.

Dan bagi siapapun yang membaca kisah ini, Pak Darminto pun berharap agar kisah hidupnya mampu menyemangati mereka yang merasa lelah, agar tetap optimistis menjalani hidup. Karena sesungguhnya Allah membersamai orang yang rajin berikhtiar dan berdoa.

Senin, 30 Oktober 2017

Dark Blue Cetar Penyemangat Belajar

Oktober 30, 2017 0 Comments
Notebook baru? Mau dooong…

Pasti itu jawaban abegeku andaikan ditawari notebook baru saat ini. Maklum, yang dipakainya sekarang tombol-tombolnya udah pada dol. Duuuh, bahasa apa sih, hehe. Ya, mungkin karena udah cukup umur (baca: tua), fungsi-fungsi notebook ini sudah mulai terganggu. Selain kendala pada keyboard, loading datanya juga mulai agak ngos-ngosan.

Beberapa bulan yang lalu saat Ujian Nasional di sekolahnya berlangsung, abegeku yang duduk di bangku SMP kelas 8 sebetulnya ingin meminjamkan notebooknya ke pihak sekolah untuk dipakai ujian kakak kelasnya. Pihak sekolah meminta bantuan karena jumlah komputer dan laptop sekolah tidak memadai untuk penyelenggaraan Ujian Nasional yang sudah memakai sistem CBT. Apa boleh buat, kondisi notebooknya enggak mungkin dipinjamin.

Nah, tahun depan giliran dia nih, yang akan menjalani Ujian Nasional. Dan notebook baru, sepertinya udah mulai harus dipikirin pengadaannya.
Lirik kanan kiri, jreng jreeeeng. Sepertinya jantung bergemuruh saat pandangan tertuju pada ASUS E202. Bukannya apa, ASUS adalah merk kesayangan kakaknya si abege, yang di tahun ajaran baru nanti akan duduk di kelas XII. So, untuk urusan kualitas, engak ragu lagi deh.

Yang pertama bikin jatuh hati tuh warnanya. Notebook yang hadir dalam versi Windows 10 dan juga DOS ini tersedia dalam beragam pilihan warna. Ada Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge. Eye catching banget deh. Bikin mata melek dan lebih semangat makenya. Dan 99% saya yakin, abege manisku bakal milih Dark Blue, warna favoritnya. By the way, ngelihat warna ini kok jadi pingin main di pantai ya? So fresh gitu.
Nah, berbeda dengan ASUS A43E punya sang kakak, ASUS E202 ini lebih tipis dan ringan. Beratnya Cuma 1,21 kg. Ukurannya juga mini, seluas kertas ukuran A4 yaitu 193 x 297 mm. Si Manis yang tubuhnya nggak setegap kakaknya ini nggak bakal kepegelan ngegendong ransel. Dan yang terpenting, ransel unyu bermotif boneka-boneka imut kesayangannya itu juga aman, nggak bakal jebol walau ada notebook di dalamnya.

Itu ajakah kelebihan ASUS E202? Hm, ya kali. Kalo Cuma itu, nggak bakal dag dig dug nih jantung. Notebook ini juga menggunakan prosesor Intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam. Weiits, kalo udah di-charge full di rumah, Si Manis enggak perlu bawa-bawa charger juga aman. Asyik ya?
Untuk urusan transfer data, ASUS E202 cangih banget ternyata. Dia punya port USB 3.1 Type-C yang sangat menghemat waktu, karena USB dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya. Dan ternyata pula, kecepatan transfer USB ini lebih cepat 11x dibandingkan USB 2.0. Wuiiih…

Kalo buat support Ujian Nasional, oke banget nih. Tapi buat abegeku, dengan punya notebook sendiri, tentu akan membuat semangat belajarnya makin kuat. Aamiin… Jika kemarin dengan notebook apa adanya dia berhasil masuk tiga besar terbaik di kelasnya, maka dengan Dark Blue nan keren ini dia pasti lebih bergairah. Apalagi jelang Ujian Nasional, selain belajar sendiri, dia akan mudah belajar secara online dengan bantuan aplikasi.

Semakin tahu kelebihan ASUS E202 ini, rasanya saya nggak bakal tahan untuk nggak minjem, hehe… Nggak papalah ya. Biasanya saya juga gantian pakai notebook sama Si Manis ini. Ya habis gimana. Touchpad besarnya itu loh, penting banget buat saya. Biar nggak suka kepleset kalo ngetik.

Eh, emang Emak-emak butuh notebook? Woow, iya banget kalo saya. Dengan notebook yang terkoneksi dengan internet, saya jadi bisa belajar banyak hal untuk meningkatkan kemampuan saya sebagai istri dan ibu. Saya bisa belajar masak dan bikin craft via You Tube, bisa belajar parenting sama ahlinya, bisa mendalami agama di grup kajian bareng ustadzah kesayangan, nemani batita ganteng nonton animasi kesukaannya dan jugaaa bisa say hello dan cuap cuap dengan teman dan sahabat tersayang lewat media sosial.

Kata orang, kalo lagi jatuh cinta, dia pasti menjadi segalanya. Dan karena saya sedang jatuh cinta, ngomongin notebook ASUS E202 ini nggak bakal ada habisnya. Buat saya, recommended deh.

Minggu, 20 Agustus 2017

Mencandu Bayu di Candi Brahu

Agustus 20, 2017 0 Comments
Akhirnya, siang tadi saya kesampaian mengunjungi Candi Brahu, setelah beberapa kali gagal karena kesibukan. Kunjungan ini sekaligus napak tilas setelah lebih dari 25 tahun yang lalu pertama kali saya kunjungi, yaitu semasa masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Jika dulu saya mendapati kerusakan pada beberapa bagian candi, kini tidak lagi. Beberapa tahun setelah kunjungan saya, yaitu tahun 1990, dilakukan pemugaran candi dan selesai lima tahun kemudian.

Candi Brahu adalah salah satu candi yang terletak di kawasan situs arkeologi Trowulan. Trowulan adalah ibukota Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Jayanegara. Di Trowulan dan sekitarnya, banyak ditemukan benda-benda purbakala, seperti arca-arca, peralatan untuk upacara keagamaan yang terbuat dari logam, gerabah dari tanah liat, perhiasan emas serta uang koin emas.


Semua peninggalan tersebut adalah jejak-jejak kemegahan Kerajaan Majapahit. Terkenal dengan Mahapatihnya yang bernama Gajah Mada, Majapahit bahkan pernah menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara. Kerajaan yang mengalami masa kejayaan pada masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk ini juga meninggalkan candi-candi lain di sekitar Candi Brahu. Di antaranya adalah Candi Gentong, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Muteran, Candi Wringin Lawang dan lain-lain. Tidak semua candi dalam keadaan utuh, sebagian ditemukan hanya berupa reruntuhan.

Dengan mengajak dua anak, saya tiba di lokasi sekitar pukul 11 siang, setelah berkendara dengan motor sekitar 20 menit dari tempat tinggal saya di pusat Kota Mojokerto. Cuaca saat itu cukup terik, tapi suasana di sekitar candi justru sangat nyaman karena limpahan semilir angin. Candi Brahu memang berlokasi di tengah areal persawahan tebu. Pohon-pohon rindang yang ditanam di sekitar candi sangat membantu membuat suasana teduh di sekeliling. Di bawah pepohonan yang rindang, tersedia bangku-bangku untuk para pengunjung berisitrahat sambil memandang candi. Beberapa pengunjung saya lihat menggelar tikar sambil makan siang bersama.

Perjalanan yang terbilang singkat membuat semangat saya masih penuh untuk berkeliling. Memasuki area candi, kami disambut dengan pemandangan sepasang kekasih yang sedang melakukan foto pra-nikah. Saya baru tahu, bagus juga tempat ini untuk membuat foto pra-nikah. Sambil berfoto, bisa membayangkan diri menjadi sepasang raja dan ratu.

Candi Brahu yang merupakan candi dengan kultur Budha ini dibangun dengan batu bata merah. Ukurannya lebih besar daripada batu bata yang kita kenal sekarang. Candi menghadap ke barat dengan panjang sekitar 22,5 m, lebar 18 m dan tinggi 20 m.

Pada sisi barat, di bagian utama tubuh candi, terdapat lubang atau ruang yang menjorok ke dalam. Ruang tersebut diduga merupakan tempat untuk mengkremasi atau membakar jenazah raja-raja, sesuai dengan prasasti yang ditulis oleh Mpu Sendok pada tahun 939 Masehi atau 861 Saka. Tetapi, setelah diadakan penelitian, para pakar menyatakan tidak menemukan sisa-sisa bekas abu mayat di dalam ruang tersebut.


Untuk melestarikan budaya Majapahit, menurut Pak Mustaman, seorang juru parkir yang sempat saya ajak ngobrol, setiap tahun digelar acara ruwatan agung di Candi Brahu. Acara tersebut dikenal dengan nama Grebeg Suro dan diselenggarakan setiap Bulan Suro menurut Kalender Saka.

Acara diawali dengan ziarah ke makam para leluhur, lalu diadakan pentas seni dan bazar makanan rakyat. Selain itu juga ada pawai dengan kostum Majapahitan. Wah, jika ada kesempatan, ingin sekali saya melihat acara ini. Saya ingin menyaksikan secara langsung kemegahan dan keanggunan kostum raja dan ratu Majapahit, walau mungkin sudah ada modifikasi di sana sini. Acara yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan ini akan ditutup dengan gelaran wayang kulit semalam suntuk.

Masih dalam rangka melestarikan dan menghidupkan kembali budaya Majapahit, Desa Bejijong, tempat Candi Brahu berlokasi, sejak sekitar dua tahun yang lalu ‘disulap’ menjadi Kampung Majapahit. Selain Bejijong, dua desa lagi di sekitarnya juga turut ‘disulap’. Pembangunan kampung ini diinisisasi oleh Gubernur Jawa Timur yaitu Bapak Soekarwo atau yang lebih dikenal dengan nama Pak De Karwo. Tujuannya untuk mengembangkan potensi wisata purbakala yang cukup besar di Mojokerto.


Kampung Majapahit merupakan deretan hunian penduduk dengan arsitektur bergaya Majapahit. Walaupun yang dibangun hanya bagian depan rumah, namun keseragaman bentuk dan warna bangunan serta pagar menjadi keunikan tersendiri. Nuansa khas Majapahit sangat terasa dan membangkitkan imajinasi kita akan keunikan dan kebersahajaan kehidupan masyarakat Majapahit di masa lampau. Candi Brahu dan Kampung Majapahit saling mendukung untuk menjadi daya Tarik wisata yang lebih kuat.

Nah, bagi para pengunjung, tak usah khawatir bila berkunjung ke Candi Brahu tanpa membawa bekal. Karena di pinggir jalan menuju lokasi candi, berderet warung-warung yang menjual makanan dan minuman ringan. Tempat parkir kendaraan pun cukup, tarifnya murah dan para petugas parkirnya juga ramah dan sangat membantu.

Bahagia sekali saya bisa mengunjungi tempat ini. Tanpa tiket masuk, hanya dengan sumbangan seikhlasnya, saya bisa mengelilingi candi dan menikmati suasana santai dan tenteram di sekitarnya. Untuk memaksimalkan waktu, saya juga bisa berkunjung ke candi-candi lain di sekitar, Kolam Segaran, Museum Purbakala, Pendopo Agung serta beberapa lokasi wisata purbakala lainnya. Semua itu bisa ditempuh dengan beberapa menit saja. Saya juga bisa memperlihatkan pada putri saya tentang bukti sisa-sisa peninggalan Kerajaan Majapahit yang megah. Semoga kunjungan ini bisa menumbuhkan rasa bangga pada putri saya akan kekayaan negerinya. Kedepannya, saya juga berharap agar situs Trowulan tetap lestari, khususnya Candi Brahu ini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam event "#WisataNusantaraKomunitasEmakPintar"

Minggu, 21 Mei 2017

Memesona Itu, Berkarakter dan Pandai Membawa Diri

Mei 21, 2017 0 Comments
Setiap wanita, pasti ingin tampil memesona, tak terkecuali saya. Tampil memesona bukan hanya di hadapan suami dan anak-anak, tapi juga di segala kesempatan.

Memesona itu bukan soal fisik belaka. Dandanan glamor dan menor tak menjamin seseorang tampak memesona. Memesona itu ekspresi dari keindahan hati yang terpancar pada wajah yang berseri.

Agar tampil memesona, saya berusaha menjaga kesehatan dengan makan yang teratur, menjaga kebersihan diri, serta istirahat yang cukup. Menjaga kesehatan wajib hukumnya, karena itu wujud rasa syukur atas karunia tubuh yang sehat dan sempurna dari Sang Maha Pencipta.

Untuk menunjang penampilan, saya suka memakai wewangian. Saya memilih yang bisa membangkitkan mood dan semangat. Mood yang baik berperan menjaga stabilitas semangat, agar saya mampu menyelesaikan tugas harian sebagai ibu rumah tangga.

Bizarre, adalah pilihan saya sejak pertama kali mengenal Vitalis Body Scent. Aroma bunganya yang wangi menawan, membuat saya sulit berpaling ke lain hati. Bizarre adalah perpaduan yang harmonis antara wangi lotus dengan aroma sandalwood, blackcurrant dan marine.

Keempat elemen yang terkandung dalam Bizarre, memiliki khasiat dan keunikannya masing-masing. Lotus atau yang lebih dikenal dengan nama teratai, dipercaya mampu meningkatkan vitalitas dan daya konsentrasi. Sedangkan sandalwood, yang tak lain adalah cendana, aromanya mampu menghilangkan rasa cemas. Cendana juga baik untuk bermeditasi. Blackcurrant, terbukti memiliki kandungan vitamin C dan antioksidan yang tinggi. Sedangkan marine, siapa yang tak suka aroma kesegaran air laut?

Sekilas, aktivitas saya sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga anak, terasa monoton. Padahal, seringkali saya dihadapkan pada kondisi yang menuntut saya untuk sigap bertindak. Vitalis Body Scent Bizarre, membantu untuk tetap tenang ketika mencari solusi. Saya merasa memesona ketika berhasil membuat semua bernafas lega.

Pada akhirnya saya berpikir, memesona itu relatif. Memesona itu ketika seseorang mampu beradaptasi dalam segala situasi, ramah, santun, tanggung jawab, tanggap, cekatan dan kreatif mencari solusi.

Saya merasa memesona ketika bisa memperbaiki perabotan dan kerusakan-kerusakan kecil lainnya di rumah saat suami tak ada, tanpa harus memanggil teknisi. Bahagia rasanya ketika mendapat pujian dari anak-anak. Wow, mama hebat.

Saya merasa memesona ketika mampu meredam amarah melihat anak-anak melakukan kesalahan, tapi tak memarahi mereka di depan umum, melainkan menasehatinya di tempat lain, berdua saja.

Saya merasa memesona ketika berhasil memenuhi harapan suami saat dia meminta didampingi untuk menghadiri undangan dari atasannya yang notabene orang asing, untuk sekedar menemani mereka berjalan-jalan ketika libur.

Saya pun merasa memesona ketika mampu bersikap anggun dan elegan ketika bertemu mantan, tanpa keinginan mengkhianati pasangan. Suami harus dihormati, keluarga adalah yang utama. Dan mantan, lupakan, walau ia akan terus dalam ingatan.

Memesona pula ketika saya tetap mampu bersikap ramah dan tersenyum di hadapan orang yang telah memfitnah saya, karena tak ingin mempermalukannya di depan umum. Kebenaran itu harus disampaikan, tetapi harus di tempat dan waktu yang tepat.

Saya juga merasa memesona ketika sanggup untuk tetap bersikap rendah hati saat melihat orang lain membanggakan sesuatu yang dimilikinya, sementara saya memiliki hal yang sama sejak lama.

Dan, saya merasa sangat sangat memesona ketika mampu melihat kebaikan dan kelebihan orang lain, tetapi tetap merasa bahagia dan bersyukur dengan segala yang telah dan belum saya miliki. Saya sadar masih jauh dari sempurna, karenanya saya akan terus belajar dan memperbaiki diri. Demikianlah cerita tentang memesona versi saya.

Kamis, 11 Mei 2017

Wisata ke Pulau Lombok dalam Sehari

Mei 11, 2017 2 Comments
Pulau Lombok merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan, baik domestik maupun manca negara. Sepanjang tahun, mereka datang mengunjungi berbagai lokasi wisata yang tersebar di penjuru pulau.

Obyek wisata yang beragam, membuat pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat ini dianggap memiliki daya tarik yang kuat. Ada Gunung Rinjani dengan air terjunnya yang indah, sejumlah pantai dengan keistimewaannya masing-masing, pemandangan bawah laut yang menakjubkan dan juga desa wisata yang unik.

Butuh waktu cukup lama, jika Emak ingin memuaskan diri menikmati semua tujuan wisata di sini. Tetapi, jika waktunya terbatas, Emak harus selektif memilih lokasi tujuan, agar maksimal memanfaatkan waktu yang tersedia.

Tapi jangan khawatir, ada beberapa obyek wisata di Pulau Lombok yang lokasinya berdekatan. Jarak yang terjangkau memungkinkan Emak mengunjunginya dalam waktu yang relatif singkat.

Obyek wisata mana sajakah itu?

Hutan Pusuk

Hutan Pusuk adalah kawasan pegunungan yang berada di sebelah utara Kota Mataram. Waktu tempuh dari kota sekitar satu jam. Hawa sejuk sangat terasa bila Emak mulai memasuki kawasan ini. Di sini, Emak bisa melihat kawanan monyet yang cukup jinak, berjajar di sepanjang jalan. Banyak pengunjung yang menyempatkan berhenti untuk memberi makan atau berfoto dengan monyet-monyet.

Pantai Senggigi

Setelah menyusuri Hutan Pusuk, Emak bisa berputar arah dan menemukan Pantai Senggigi. Pantai ini memiliki gunungan pasir hitam yang halus. Deburan ombaknya cukup kencang, sehingga Emak harus lebih waspada jika bermain di pantai ini. Saat pagi hari, akan terlihat layar perahu nelayan yang pulang melaut. Warna warninya membuat pemandangan pantai lebih semarak.

Kota Mataram

Memasuki wilayah kota, Emak bisa mengunjungi Islamic Center dengan masjidnya yang megah, atau Kantor Gubernur dengan halamannya yang asri. Jalan-jalan di Kota Mataram terbilang bebas macet. Pohon-pohon besar nan rindang di kanan kiri jalan membuat hawa terasa sejuk sehingga nyaman sekali saat berjalan-jalan.

Tidak hanya itu, Emak pun bisa memanjakan lidah dengan menikmati sajian khas Suku Sasak. Ada beragam kuliner yang bisa dipilih. Mulai dari yang murah meriah, hingga yang mewah di tempat yang berkelas.

Desa Wisata

Keluar dari Kota Mataram, Emak bisa mengunjungi beberapa desa wisata. Ada Desa Banyumulek yang merupakan sentra industri gerabah, Desa Sukarara penghasil kain tenun tradisional alias songket khas Lombok dan Desa Sade, yang hingga kini masih mempertahankan adat Suku Sasak yang unik. Di Desa Sade, Emak bisa membeli kain songket dan berbagai kerajinan tradisional lainnya.
Pantai Mawun, Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan

Sekitar 40 menit dari Desa Sade, Emak akan disambut pemandangan pantai yang eksotis dan luar biasa indah. Ada beberapa pantai yang berdekatan, yaitu Pantai Mawun, Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan. Di antara ketiganya, Pantai Kuta paling ramai dikunjungi.

Pantai Kuta memiliki keunikan yang khas, yaitu berupa pasir yang butirannya sebesar merica dan berwarna kuning keemasan. Saat senja, panorama di pantai ini begitu menakjubkan.

Tak jauh dari Pantai Kuta, sebelum bertemu dengan Pantai Tanjung Aan, Emak bisa menikmati keindahan Patung Putri Mandalika.

Semua obyek wisata tersebut di atas, bisa dikunjungi dalam waktu sehari. Jika perjalanan dimulai sejak pagi hari, Emak bisa menikmati obyek wisata Lombok dengan maksimal, walaupun tak sempat menginap.

Rabu, 10 Mei 2017

Aktivitas yang Bisa Dilakukan Saat Menunggu Antrian Bersama Anak

Mei 10, 2017 0 Comments
Dalam beraktivitas sehari-hari, tak jarang Emak harus pergi ke luar bersama si kecil dan mengantri untuk suatu urusan. Bila mengantri hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tentu tak jadi soal. Tapi bagaimana bila mengantri hingga lebih dari satu jam?


Menunggu antrian dalam waktu yang cukup lama, tentu membosankan. Apalagi bagi si kecil yang memang masih suka menghabiskan waktu dengan bermain dan berlarian ke sana ke mari.

Agar si kecil tenang ketika Emak mengajaknya mengantri, ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan bersamanya.

Mengajaknya mengobrol

Mengobrol bisa membuat waktu terasa cepat berlalu. Melalui obrolan, Emak bisa menyisipkan nasihat tentang pentingnya mengantri. Mengantri adalah salah satu cara mengajari anak bersabar dan menghormati hak orang lain.

Bila ada seseorang menyerobot antrian, Emak bisa mengatakan pada si kecil, bahwa itu adalah contoh yang tidak baik dan tak boleh ditiru. Menyerobot antrian sama dengan merampas hak orang lain. Jika ingin mendapat giliran lebih dahulu, tentu harus datang lebih awal.

Selain nasehat, Emak juga bisa mengajaknya mengobrol tentang kegemaran maupun kegiatannya di sekolah. Antusiasnya bercerita akan membuatnya menikmati waktu dan tak lagi merasa bosan.

Membaca buku

Sebelum pergi, sebaiknya menyiapkan satu atau dua buah buku kesukaannya. Jika si kecil belum bisa membaca, Emak bisa membacakan untuknya. Jika sudah bisa, Emak bisa membaca bersamanya. Tentu saja, Emak pun perlu menyiapkan buku pilihan Emak sendiri. Jadi, secara tidak langsung, Emak juga memperkenalkan budaya membaca pada si kecil.

Membawakan mainan kesukaannya

Untuk balita, mainan kadang lebih menarik dari pada buku. Untuk itu, Emak bisa membawa mainan yang mudah dibawa untuk persiapan mengantri. Misalnya, boneka atau mobil-mobilan kecil. Biarkan anak bereksplorasi di sekitar tempat antrian, asal masih dalam jangkauan pengawasan Emak.

Bermain tebak-tebakan

Bermain tebak-tebakan juga menyenangkan bagi si kecil. Asal, Emak mampu mengendalikan volume suara sehingga tidak sampai mengganggu pengantri yang lain. Tebakannya bisa dari hal yang sangat sederhana. Misalnya menebak nama dan warna benda di sekitar. Bisa juga tebakan yang Emak dapatkan dari buku atau majalah. Berikan reward bila berhasil menebak. Misalnya berupa kue dan biskuit.

Bermain game

Bermain game juga bisa menjadi variasi membunuh waktu. Tetapi, sebaiknya ini adalah pilihan terakhir, mengingat efek buruknya bagi anak. Terlalu banyak terpapar radiasi dari layar gadget, berdampak buruk bagi kesehatan mata.

Berbagai aktivitas di atas, memungkinkan si kecil untuk tetap menikmati waktunya ketika mengantri. Secara langsung, Emak juga telah memberikan teladan untuk sabar menanti giliran. Mengantri juga salah satu cara belajar disiplin dan sopan santun loh Mak.

Follow Us @soratemplates