Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Arab Saudi, Impianku dari Dulu hingga Kini

Februari 03, 2018 0 Comments

Pagi tadi, saya menjemput bapak dan adik saya di bandara Juanda, Surabaya. Mereka baru saja pulang dari perjalanan untuk ibadah umrah.

Selama ini, saya sudah banyak mendengar kisah-kisah seru dan mengharukan dari mereka yang telah menjalaninya. Tapi ketika menyimak cerita dari adik sendiri secara langsung, rasanya sangat berbeda. Sebagai seorang muslimah, saya tentu juga sangat mengidamkannya.

Perjalanan mereka dimulai sejak pertengahan bulan Januari kemarin. Karena ikut grup backpacker, maka mereka memilih naik pesawat non direct, sehingga harus transit di beberapa negara. Ketika transit, sambil menunggu penerbangan berikutnya, mereka akan memanfaatkannya untuk city tour.

Negara pertama yang mereka singgahi adalah Malaysia. Bersama seorang sahabat, saya sudah pernah mengunjungi negeri jiran ini beberapa tahun yang lalu. Dan itu adalah perjalanan saya yang pertama dan sekali-kalinya ke luar negeri.


Menyimak cerita dari saudara saya yang lain, bahwa antrian haji yang sedang dinantinya masih akan jatuh tempo beberapa tahun lagi. Itu makin menguatkan keinginan saya untuk segera ke Baitullah, baik untuk berhaji maupun umrah. Mohon doanya ya, Teman-teman.

Kembali ke topik utama. Apa sih yang membuat saya ingin sekali ke Arab Saudi? Yang pertama tentu karena ingin ke Mekkah untuk ibadah umroh dulu setidaknya, walaupun hukumnya sunnah.

Menurut adik saya, suasana di sana sangat menyenangkan. Di mana-mana yang terlihat adalah wajah-wajah teduh penuh kebahagiaan. Semua berlomba-lomba untuk beribadah. Shalat wajib, shalat sunnah, membaca Al Quran dan berdzikir adalah aktivitas utama. Sedangkan mencari nafkah, seolah hanya aktivitas selingan yang dilakukan sambil menunggu waktu salat tiba.


Setiap hari, semua orang bergegas menuju masjid begitu mendengar suara adzan. Mereka bahkan sudah mempersiapkan diri beberapa saat sebelum adzan pertama dikumandangkan. Sesampainya di masjid, mereka segera melakukan shalat sunnah sampai adzan ke dua dikumandangkan. Adzan kedua adalah tanda bahwa shalat wajib akan segera dimulai.

Salat berjamaah terasa syahdu. Sesekali terdengar imam terisak ketika membaca ayat suci. Adik saya walau tak paham dengan arti surat yang dibaca, terbawa suasana. Semua larut dalam kepasrahan, menghamba pada Yang Maha Kuasa, menyerahkan diri dan mengakui ketidakberdayaan di hadapan-Nya.

Di Masjidil Haram yang mana terletak Ka’bah di dalamnya, ada beberapa tempat yang mustajab untuk berdoa. Mustajab artinya dikabulkan. Siapa sih yang nggak ingin doanya dikabulkan? Saya tentu ingin, apalagi keinginan saya banyak, hehe.

Beberapa tempat tersebut antara lain Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah), Hijir Ismail, di bawah pancuran emas di Ka’bah, belakang Maqam Ibrahim, di Bukit Shafa dan Bukit Marwa dan masih ada lagi.


Beberapa hari berada di Mekkah, banyak pengalaman berkesan yang didapatkan adik saya. Pernah suatu ketika, saat sedang antri untuk mengambil air zam-zam, seorang wanita berniqob tiba-tiba datang dan menyapanya.

Wanita tersebut bertanya dari mana adik saya berasal. Dia sangat takjub ketika adik saya menjawab bahwa dia berasal dari Indonesia. Wanita itu juga terharu karena negeri kita amat jauh dari Arab dan tidak berbahasa Arab, tetapi adik saya memiliki niat yang amat besar untuk bisa sampai ke Mekkah. Tiba-tiba wanita tersebut mengelus lembut pipi adik saya dan memberinya sejumlah Riyal lalu segera berlalu. Sementara adik saya bingung dan bengong dibuatnya.

Masih banyak pengalaman menarik lain yang dikisahkan adik saya, membuat saya makin ingin pergi ke sana. Arab Saudi akan tetap menjadi impian saya sebelum saya ingin menjejakkan kaki ke negeri lain di dunia ini. Semoga segera kesampaian. Kalau Anda, negeri apa yang ingin Anda kunjungi?




Rabu, 31 Januari 2018

Keresan, Tradisi Memperingati Maulid Nabi di Dusun Mengelo

Januari 31, 2018 0 Comments

Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan budaya. Berbagai adat istiadat kerap kita jumpai di seluruh pelosok negeri. Perayaan dalam rangka memperingati suatu hari tertentu, bisa berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Termasuk perayaan dalam rangka memperingati maulid Nabi besar Muhammad SAW.

Jika di Jogja ada sekaten, maka di kampung halaman saya ada keresan. Tradisi yang dilakukan setiap tahun ini, hanya dijumpai di dusun saya, yaitu Dusun Mengelo, Kecamatan Sooko, tepatnya di Masjid Darussalam. Dan ini bukanlah tradisi yang secara umum dilakukan masyarakat Mojokerto, Jawa Timur.

Sesuai dengan namanya, pohon keres atau yang juga dikenal dengan nama pohon talok, wajib ada pada perayaan tersebut. Pohon keres dipakai untuk menggantungkan hiasan yang berupa barang-barang kebutuhan sehari-hari. Mulai dari buah-buahan, sayur mayur, pakaian anak dan dewasa, topi, bumbu dapur, panci, sepeda, jilbab dan lain-lain. Nantinya barang-barang tersebut akan diperebutkan oleh masyarakat setelah seluruh rangkaian acara maulid selesai.


Jadi tahu kan, alasan dibalik dipilihnya pohon keres? Tentu saja karena batangnya kuat, dahan dan rantingnya banyak, rindang, termasuk pohon yang tumbuhnya relatif cepat dan mudah didapatkan.

Sehari sebelum perayaan, pohon keres mulai disiapkan. Dari tempatnya berasal, pohon keres dicabut hingga ke akarnya lalu ditanam di jalan depan masjid, tempat diadakannya perayaan. Usai terhias, pohon akan dijaga semalaman agar tidak ada yang mencoba mencuri hiasannya.

Jika dulu cukup menggunakan satu pohon keres, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, keres yang ditanam sekarang ada dua untuk setiap perayaan.

Acara peringatan maulid pada keesokan harinya, diawali dengan pawai sepeda hias, mobil dan becak hias serta drumband. Pawai diberangkatkan dari depan masjid dan berakhir di tempat yang sama setelah sebelumnya berkeliling melalui jalan kampung.

Jangan ditanya ramainya, karena peserta pawai diperpanjang dengan pawai motor oleh orang tua yang ikut di belakang barisan. Mungkin untuk berjaga-jaga jika putra putri mereka kelelahan saat ikut pawai. Masyarakat yang rumahnya tidak dilalui pawai, biasanya tumpah ruah di jalanan yang termasuk rute.


Usai pawai, barulah pengajian di masjid dimulai. Ribuan orang hadir dan memenuhi halaman serta jalanan di sekitar masjid. Beberapa tahun terakhir, bahkan ada beberapa stasiun TV yang meliputnya.

Tausiyah oleh Pak Kyai atau Ustad disampaikan hingga menjelang dhuhur. Usai pembacaan doa, sirine dibunyikan. Itu adalah tanda bahwa pohon keres maulid boleh dirobohkan dan diperebutkan oleh masyarakat.

Biasanya beberapa anak muda nekat memanjat, mengambil barang yang diincar, lalu melemparkannya kepada rekannya. Setelah itu barulah mengambil apapun yang bisa dijangkau dan dilempar ke sembarang arah.

Masyarakat yang memadati area keres pun berebutan barang-barang dengan gembira. Banyak pula yang hanya menonton dari jauh karena khawatir terinjak. Saya sendiri lebih memilih mendokumentasikannya saja daripada ikut berebutan.

Menurut salah seorang tokoh yang sempat saya tanyai, acara ini ternyata sudah berlangsung sejak tahun 70 an, dan akan terus dilestarikan karena sudah dianggap sebagai tradisi.

Itulah salah satu yang khas dari daerah saya, yang membuat saya selalu ingat kampung halaman di manapun saya berada. Kalau Anda, tradisi apa yang khas dari daerah Anda?

Selasa, 30 Januari 2018

Janggelan, Si Hitam Yang Tak Hanya Manis

Januari 30, 2018 0 Comments

Salah satu kuliner yang saya rindukan ketika jauh dari kampung halaman adalah janggelan. Di daerah lain, sebagian orang mengenalnya dengan nama cincau.

Berbeda dengan cincau yang kadang warnanya hijau, janggelan berwarna hitam legam. Teksturnya mirip agar-agar. Saat masih utuh, dia berbentuk balok-balok besar. Bila hendak disajikan, barulah dipotong-potong sesuai selera. Ada yang dipotong agak besar, kecil, ada pula yang diserut.

Cara penyajiannya, pertama masukkan es batu terlebih dahulu, lalu janggelan yang telah dipotong-potong, gula merah cair dan terakhir santan. Janggelan tidak boleh terkena air panas karena dia bisa mencair seperti halnya agar-agar.

Dulu, janggelan hanya disajikan bersama kuah yang terdiri dari campuran gula merah dan santan serta es batu, tetapi kini bisa pula dicampur dengan sirop rasa yang lain, cappuccino misalnya. Janggelan juga biasa dipakai sebagai isian es campur.

Di Mojokerto yang tak lain adalah kampung halaman saya, ada seorang penjual janggelan yang menurut saya legendaris. Dulu saat masih kecil, saya biasa menikmati janggelan di warung tersebut bersama almarhumah ibu saya. Hampir selalu sepulang dari berbelanja di Pasar Kranggan, kami minum janggelan dulu sambil menikmati ote-ote alias bakwan sayur.

Lebih dari 20 tahun kemudian, warung tersebut masih berdiri. Saya penasaran, lalu mencoba membeli di tempat yang sama. Sambil membungkus janggelan pesanan saya, sang ibu penjual menjawab semua kekepoan saya.. Ternyata beliau adalah adik dari pemilik warung yang pertama berjualan di situ. Dan resep yang dipakainya hingga kini, adalah resep warisan dari sang kakak. Hm… Pantas, rasanya tak berubah. Janggelan di warung tersebut masih sesedap dulu.

Menikmati janggelan itu sebaiknya siang hari saat matahari terik. Terutama saat habis beraktivitas dan berkeringat. Manisnya gula merah yang dipadu dengan santan dan es batu, akan memuaskan dahaga kita. Membuat tenggorokan terasa segar dan lega. Sementara janggelan sendiri, karena kandungan seratnya yang tinggi, cukup mengenyangkan.

Minuman yang terbuat dari daun ini, dulu hanya bisa ditemui di pasar-pasar tradisional. Tetapi sekarang dia sudah naik daun. Janggelan bisa ditemui pula di gerai di sudut-sudut kota bahkan masuk dalam daftar minuman di berbagai restoran, walau dengan nama yang sudah dimodifikasi.

Si hitam manis ini, selain enak dan segar, ternyata juga memiliki banyak khasiat. Menurut salah satu artikel yang diterbitkan di supplierbubbledrinks, janggelan juga berkhasiat untuk meredakan panas dalam, menurunkan demam, mengatasi gangguan pencernaan, sebagai antioksidan, anti inflamasi, anti kanker, penurun tensi dan lain-lain. Kadar seratnya yang tinggi juga bisa membantu melancarkan BAB loh.

Janggelan yang makin banyak ditemukan saat Ramadan ini, adalah minuman segar favorit saya saat musim panas. Kalau minuman segar favorit Anda apa?

Senin, 29 Januari 2018

Lombok, I am Falling in Love

Januari 29, 2018 0 Comments

Sepanjang tahun 2016 kemarin, saya sekeluarga tinggal di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Yang namanya pergi ke pantai, tak terhitung kali. Tapi, saya nggak pernah merasa bosan.

Buat saya, Pulau Lombok memang penuh pesona. Ada banyak kenangan yang terukir selama setahun tinggal di sana. Dan kini, setelah tak lagi tinggal di sana, saya bahkan masih saja merindukannya.

Awal tinggal di Lombok, saya memang sempat merasa kurang nyaman. Hal itu karena kami sekeluarga masih tinggal di rumah atasan suami, yang notabene di lingkungannya banyak sekali anjing liar. Padahal, saya phobia anjing.


Setiap hari, usai mengantar anak sekolah dan belanja ke pasar, saya terkurung di dalam rumah. Saya betul-betul nggak berani ke luar dari halaman rumah karena jumlah anjing yang berkeliaran di sekitar rumah mencapai belasan.

Bila ingin membeli sesuatu di luar, saya harus menunggu suami pulang. Bak seorang permaisuri, tiap mau keluar dari rumah, saya akan lebih dulu masuk mobil. Setelah pintu mobil tertutup, suami membuka gerbang, mengeluarkan mobil, menutup gerbang kembali, baru deh melajukan mobil, hehe…

‘Pengurungan’ yang saya rasakan berakhir setelah kami mendapat rumah sewa yang bebas anjing. Di rumah tersebut, saya baru bisa mulai bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Dan Lombok yang sesungguhnya, baru bisa saya nikmati.

Beberapa pesona Lombok yang membuat saya ingin selalu kembali berkunjung adalah sebagai berikut:

Panorama yang indah dan destinasi wisata yang komplet

Pantai Senggigi dan Pantai Kuta adalah dua dari sekian banyak pantai yang terkenal di Lombok. Selain dua itu, masih ada Pantai Pink, Pantai Mawun, Pantai Seger, Pantai Ampenan, Gili Trawangan dan gili-gili lain dengan terumbu karangnya serta masih banyak lagi. Yang menarik, setiap pantai dan gili tersebut memiliki ciri khas masing-masing. Dan semuanya luar biasa indah.

Tak hanya pantai, di Lombok juga ada air terjun, arena pendakian gunung, bukit-bukit dengan sunsetnya yang eksotis, desa adat sampai wisata religi.


Wisata yang murah bahkan gratis

Untuk bisa menikmati panorama indah alam Lombok, tak selalu harus menguras dompet. Banyak pantai terbuka yang memungkinkan kita masuki tanpa harus membayar biaya tiket masuk. Jika harus buka dompet, paling untuk jajan atau sewa kendaraan.

Kuliner khas yang lezat, murah dan halal

Seperti halnya daerah lain di Indonesia, Nusa Tenggara Barat juga memiliki banyak kuliner khas. Saya paling suka soto babalung dan sate Rembiga. Dua makanan dengan bahan baku utama daging sapi ini begitu kuat menggoda selera saya.

Selain itu juga ada aneka nasi campur, antara lain nasi ebatan, nasi lindung dan nasi kuning. Lalu ada juga sayur ares yang terbuat dari gedebog pohon pisang bagian dalam, sate bulayak, ayam suwir dan yang paling terkenal adalah ayam bakar Taliwang dan ikan bakar khas NTB serta plecingan.

Semua menu makanan tersebut, sangat terjangkau harganya. Seporsi nasi campur dengan aneka lauk bahkan bisa dinikmati hanya dengan lima ribu rupiah saja. Murah, bukan?

Budaya yang indah dan lestari

Mayoritas masyarakat Lombok masih berpegang teguh pada tradisi. Selama di sana, saya pernah menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad dengan suasana yang khas. Banyak makanan terhidang untuk tamu. Kemeriahannya lebih dari pada saat lebaran. Masyarakat Lombok itu ramah-ramah loh.

Setiap usai Idul Fitri, di Pantai Senggigi juga ada upacara adat yang disebut Lebaran Topat. Tapi saya paling suka menyaksikan arak-arakan penganten sunat dan Nyongkolan. Dua acara tersebut biasa diadakan di Hari Minggu. Saya bisa menyaksikan alunan gendang Beleq dari depan rumah karena arak-arakan tersebut biasanya lewat di depan rumah saya.


Banyaknya masjid

Kota Mataram dijuluki dengan nama Kota Seribu Masjid. Ini bukan cuma julukan loh. Masjid sangat mudah dijumpai di ibukota propinsi yang penduduknya mayoritas memeluk agama Islam ini. Setiap sekian ratus meter, ada masjid berdiri. Bahkan di beberapa tempat, ada dua masjid yang bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh jalan.

Sebagai seorang muslimah, hal ini tentu sangat memudahkan saya untuk beribadah apabila sedang dalam perjalanan. Kamar mandi masjid pun biasa dipakai oleh wisatawan untuk membersihkan diri usai bermain air di pantai.

Suami

Nah, ini alasan yang terakhir tapi paling penting. Yaitu keberadaan suami saya di pulau ini, hehe… Betul, saya dan suami LDR an karena saya harus mengasuh anak-anak saya yang melanjutkan sekolah di kota yang saya tinggali sekarang. Sementara itu, suami tinggal karena harus bekerja demi mencari sebongkah berlian nafkah untuk kami.

Untuk memuaskan hasrat berlibur, mengunjungi Pulau Lombok itu tak cukup sehari dua hari. Banyak lokasi wisata yang memang sangat menarik. Jika Anda tertarik setelah menyimak cerita saya, segera pesan tiket liburan ke sana ya. Dijamin Nggak rugi.


Minggu, 20 Agustus 2017

Mencandu Bayu di Candi Brahu

Agustus 20, 2017 0 Comments
Akhirnya, siang tadi saya kesampaian mengunjungi Candi Brahu, setelah beberapa kali gagal karena kesibukan. Kunjungan ini sekaligus napak tilas setelah lebih dari 25 tahun yang lalu pertama kali saya kunjungi, yaitu semasa masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Jika dulu saya mendapati kerusakan pada beberapa bagian candi, kini tidak lagi. Beberapa tahun setelah kunjungan saya, yaitu tahun 1990, dilakukan pemugaran candi dan selesai lima tahun kemudian.

Candi Brahu adalah salah satu candi yang terletak di kawasan situs arkeologi Trowulan. Trowulan adalah ibukota Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Jayanegara. Di Trowulan dan sekitarnya, banyak ditemukan benda-benda purbakala, seperti arca-arca, peralatan untuk upacara keagamaan yang terbuat dari logam, gerabah dari tanah liat, perhiasan emas serta uang koin emas.


Semua peninggalan tersebut adalah jejak-jejak kemegahan Kerajaan Majapahit. Terkenal dengan Mahapatihnya yang bernama Gajah Mada, Majapahit bahkan pernah menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara. Kerajaan yang mengalami masa kejayaan pada masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk ini juga meninggalkan candi-candi lain di sekitar Candi Brahu. Di antaranya adalah Candi Gentong, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Muteran, Candi Wringin Lawang dan lain-lain. Tidak semua candi dalam keadaan utuh, sebagian ditemukan hanya berupa reruntuhan.

Dengan mengajak dua anak, saya tiba di lokasi sekitar pukul 11 siang, setelah berkendara dengan motor sekitar 20 menit dari tempat tinggal saya di pusat Kota Mojokerto. Cuaca saat itu cukup terik, tapi suasana di sekitar candi justru sangat nyaman karena limpahan semilir angin. Candi Brahu memang berlokasi di tengah areal persawahan tebu. Pohon-pohon rindang yang ditanam di sekitar candi sangat membantu membuat suasana teduh di sekeliling. Di bawah pepohonan yang rindang, tersedia bangku-bangku untuk para pengunjung berisitrahat sambil memandang candi. Beberapa pengunjung saya lihat menggelar tikar sambil makan siang bersama.

Perjalanan yang terbilang singkat membuat semangat saya masih penuh untuk berkeliling. Memasuki area candi, kami disambut dengan pemandangan sepasang kekasih yang sedang melakukan foto pra-nikah. Saya baru tahu, bagus juga tempat ini untuk membuat foto pra-nikah. Sambil berfoto, bisa membayangkan diri menjadi sepasang raja dan ratu.

Candi Brahu yang merupakan candi dengan kultur Budha ini dibangun dengan batu bata merah. Ukurannya lebih besar daripada batu bata yang kita kenal sekarang. Candi menghadap ke barat dengan panjang sekitar 22,5 m, lebar 18 m dan tinggi 20 m.

Pada sisi barat, di bagian utama tubuh candi, terdapat lubang atau ruang yang menjorok ke dalam. Ruang tersebut diduga merupakan tempat untuk mengkremasi atau membakar jenazah raja-raja, sesuai dengan prasasti yang ditulis oleh Mpu Sendok pada tahun 939 Masehi atau 861 Saka. Tetapi, setelah diadakan penelitian, para pakar menyatakan tidak menemukan sisa-sisa bekas abu mayat di dalam ruang tersebut.


Untuk melestarikan budaya Majapahit, menurut Pak Mustaman, seorang juru parkir yang sempat saya ajak ngobrol, setiap tahun digelar acara ruwatan agung di Candi Brahu. Acara tersebut dikenal dengan nama Grebeg Suro dan diselenggarakan setiap Bulan Suro menurut Kalender Saka.

Acara diawali dengan ziarah ke makam para leluhur, lalu diadakan pentas seni dan bazar makanan rakyat. Selain itu juga ada pawai dengan kostum Majapahitan. Wah, jika ada kesempatan, ingin sekali saya melihat acara ini. Saya ingin menyaksikan secara langsung kemegahan dan keanggunan kostum raja dan ratu Majapahit, walau mungkin sudah ada modifikasi di sana sini. Acara yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan ini akan ditutup dengan gelaran wayang kulit semalam suntuk.

Masih dalam rangka melestarikan dan menghidupkan kembali budaya Majapahit, Desa Bejijong, tempat Candi Brahu berlokasi, sejak sekitar dua tahun yang lalu ‘disulap’ menjadi Kampung Majapahit. Selain Bejijong, dua desa lagi di sekitarnya juga turut ‘disulap’. Pembangunan kampung ini diinisisasi oleh Gubernur Jawa Timur yaitu Bapak Soekarwo atau yang lebih dikenal dengan nama Pak De Karwo. Tujuannya untuk mengembangkan potensi wisata purbakala yang cukup besar di Mojokerto.


Kampung Majapahit merupakan deretan hunian penduduk dengan arsitektur bergaya Majapahit. Walaupun yang dibangun hanya bagian depan rumah, namun keseragaman bentuk dan warna bangunan serta pagar menjadi keunikan tersendiri. Nuansa khas Majapahit sangat terasa dan membangkitkan imajinasi kita akan keunikan dan kebersahajaan kehidupan masyarakat Majapahit di masa lampau. Candi Brahu dan Kampung Majapahit saling mendukung untuk menjadi daya Tarik wisata yang lebih kuat.

Nah, bagi para pengunjung, tak usah khawatir bila berkunjung ke Candi Brahu tanpa membawa bekal. Karena di pinggir jalan menuju lokasi candi, berderet warung-warung yang menjual makanan dan minuman ringan. Tempat parkir kendaraan pun cukup, tarifnya murah dan para petugas parkirnya juga ramah dan sangat membantu.

Bahagia sekali saya bisa mengunjungi tempat ini. Tanpa tiket masuk, hanya dengan sumbangan seikhlasnya, saya bisa mengelilingi candi dan menikmati suasana santai dan tenteram di sekitarnya. Untuk memaksimalkan waktu, saya juga bisa berkunjung ke candi-candi lain di sekitar, Kolam Segaran, Museum Purbakala, Pendopo Agung serta beberapa lokasi wisata purbakala lainnya. Semua itu bisa ditempuh dengan beberapa menit saja. Saya juga bisa memperlihatkan pada putri saya tentang bukti sisa-sisa peninggalan Kerajaan Majapahit yang megah. Semoga kunjungan ini bisa menumbuhkan rasa bangga pada putri saya akan kekayaan negerinya. Kedepannya, saya juga berharap agar situs Trowulan tetap lestari, khususnya Candi Brahu ini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam event "#WisataNusantaraKomunitasEmakPintar"

Follow Us @soratemplates