Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Februari 2018

Siaga dengan Paket P3K.

Februari 04, 2018 0 Comments

Memiliki anak lelaki berusia tiga tahun kadang membuat saya merasa was-was. Rasa ingin tahu dan keinginannya untuk mencoba hal baru demikian besar, tetapi belum diimbangi dengan kewaspadaan yang cukup.

Seringkali dia melakukan aktivitas yang berpotensi membuatnya terjatuh dan terluka. Sebagai ibu, tentu saya berusaha mengawasinya dengan baik. Tetapi ada kalanya dia lolos dari pengawasan.

Tahu-tahu terdengar suara benda terjatuh bersamaan dengan pecahnya tangis si kecil. Olala, rupanya dia terjatuh saat mencoba menaiki sesuatu yang labil posisinya. Dan sebuah luka kecil di tangan atau kakinya, ditunjukkannya pada saya.

Kejadian seperti itu walaupun jarang, tetap harus saya antisipasi. Itulah sebabnya saya selalu menyiapkan kotak P3K di rumah. Sesuai dengan kepanjangannya yaitu pertolongan pertama pada kecelakaan, maka kotak P3K selalu saya isi sesuai kebutuhan sehingga bila ada anggota keluarga yang membutuhkannya, obat yang diperlukan tersedia. Saya pun tak perlu repot keluar rumah untuk membelinya pada saat panik karena si kecil terluka misalnya.

Kotak P3K di rumah saya, sekaligus saya satukan dengan stok obat. Isinya jadi tampak komplet karena menyatu dengan obat-obatan yang sering kami butuhkan.

Beberapa obat yang biasa tersedia antara lain:

- Obat dan alat untuk merawat luka baru, yaitu betadine, revanol, kapas, kasa steril, plester cepat dan plester perekat.

- Obat turun panas. Karena demam bisa terjadi kapan saja, maka saya mengusahakan agar obat untuk itu selalu tersedia, baik untuk dewasa maupun untuk si balita.

- Obat flu dan batuk. Agar flu dan batuk tidak menular kepada anggota keluarga yang lain, maka saya juga menyediakan obatnya, agar penderita bisa segera meminumnya dengan harapan segera sembuh.

-Obat maag.

- Multivitamin untuk dewasa dan balita.

- Salep atau obat oles dan koyo untuk capek-capek. Suami saya sering membutuhkan obat ini untuk mengatasi kelelahan ototnya akibat sering menyetir atau duduk dalam jangka waktu cukup lama.

- Obat memar dan obat luka bakar.

- Pembalut wanita. Benda yang satu ini juga wajib ada di rumah saya mengingat ada tiga orang pemakainya.
- Gunting kuku dan gunting pemotong.

Itulah isi kotak P3K saya. Sesekali saya juga akan memeriksa obat-obatan tersebut agar mengetahuinya bila ada yang kadaluarsa. Obat yang kadaluarsa harus segera dibuang agar tidak sampai terkonsumsi oleh anggota keluarga.

Selain kotak P3K, ada hal lain yang juga selalu saya siapkan untuk mengantisipasi kejadian yang tak terduga. Yang pertama adalah kartu BPJS. Kartu ini diperlukan untuk berobat. Sesuai pengalaman saya, walaupun berada di luar kota, dalam keadaan darurat, kartu ini tetap bisa dipakai. Jadi, saya selalu menyiagakannya di dompet.

Dan yang terakhir adalah nomor telepon penting. Nomor telepon tersebut meliputi nomor telepon dokter faskes tingkat satu rujukan saya, nomor telepon rumah sakit faskes dua, nomor telepon beberapa dokter langganan serta nomor telepon taksi dan ojeg. Karena sekarang menggunakan taksi online lebih mudah dan nyaman, maka saya juga memasang aplikasinya di ponsel saya.

Antisipasi kondisi darurat itu bukan sekedar menyiapkan kotak P3K, tapi juga menyiapkan beberapa hal yang diperlukan untuk perawatan selanjutnya. Pertolongan pertama yang cepat dan tepat akan meminimalkan resiko dan biaya.

Adakah saran yang lain dari pembaca sekalian? Bisa di-share di kolom komentar ya.


Jumat, 02 Februari 2018

Sehatkan Jiwa Raga dengan Berwisata

Februari 02, 2018 0 Comments

Banyak orang setuju jika berwisata bisa menyehatkan jiwa. Itu tidak salah, karena dengan berwisata pikiran bisa lepas dari masalah walau sejenak.

Pun demikian dengan saya. Sekian tahun menikah dan punya anak, kesibukan saya menjadi kurang berwarna. Jenuh sering datang karena aktivitas yang monoton. Dari pagi hingga malam, lebih banyak berkutat pada ‘urusan dalam negeri’ yang tak kunjung habis. Tak perlu disebutkan satu-satulah ya, semua ibu sudah hafal di luar kepala.

Lalu bagaimana dengan suami dan anak-anak? Sebetulnya tak jauh berbeda. Suami dengan aktivitasnya di kantor, pasti ada saatnya merasa bosan. Mungkin saja mereka harus menghadapi tekanan bos yang perfeksionis dan memenuhi permintaan klien yang kadang sulit. Sementara di saat yang sama, rekan kerja mereka belum tentu kooperatif.

Dan anak-anak, sama juga. Saat saya tanya bagaimana perasaannya ketika sepanjang hari harus berada di sekolah, jawabannya adalah, “Seneng sih, tapi…” Kata “Tapi” mengisyaratkan bahwa mereka pun menghadapi tantangannya yang juga tidak mudah. Banyaknya materi, tugas pribadi maupun kelompok, nasehat guru, bullyan teman hingga ujian tentu harus dipikirkan dan hadapi.

Maka sudah seharusnya, kita sisihkan waktu untuk merefresh pikiran agar esok lebih semangat dan makin siap menghadapi hari.

Berwisata nggak harus jauh dan berbiaya loh. Jalan-jalan pagi atau sore ke lingkungan sekitar rumah juga bisa. Kalo nggak sempat, seminggu sekali saat akhir pekan juga oke. Yang penting ke luar rumah dan melupakan rutinitas sebentar.

Banyak sekali manfaat yang bisa didapat dari aktivitas jalan-jalan. Dalam sebuah artikel yang dimuat di carakhasiatmanfaat.com, jalan kaki disebut bermanfaat untuk memperkuat jantung, menurunkan resiko terkena berbagai penyakit, menjaga berat badan tetap normal, membantu mencegah demensia, mencegah osteoporosis, membentuk dan memperkuat kaki dan bahu, membuat tubuh lebih berenergi dan meningkatkan kadar vitamin D.

Jalan kaki tak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwa. Saat jalan-jalan, mata melihat pemandangan yang berbeda. Hijaunya daun, warna warni bunga, awan yang putih, langit biru yang luas dan panorama indah lainnya, mampu mengurangi stress. Bila stress berkurang, resiko depresi pun melayang.

Jalan kaki juga bisa mengasah kepekaan rasa. Sepanjang jalan yang dilalui, jika mau mencoba lebih peduli pada lingkungan, tak sulit kita menemukan ibu-ibu tua yang masih bekerja, kakek renta yang berkeliling menjajakan dagangannya atau anak-anak kecil yang meminta-minta.
Menyaksikan langsung kondisi masyarakat sekitar yang kurang beruntung, bisa membuat kita berpikir ulang, bahwa ternyata Tuhan sudah memberikan begitu banyak nikmat pada kita selama ini. Rasa lebih beruintung akan membuat kita lebih mudah bersyukur dan merasa lebih bahagia.

Adakalanya jalan-jalan justru menumbuhkan ide baru. Munculnya usaha baru di daerah tertentu yang kita lewati, bisa menggelitik otak kita untuk berinovasi. Mungkin kita bisa membuka usaha serupa tapi di tempat lain, atau membukanya di rumah tapi dengan menambahkan inovasi tertentu. Pikiran yang tadinya suntuk, bisa lebih hidup. Masalah yang kita pikir buntu, ternyata ada solusinya.

Nah, Pak, Bu, mari agendakan waktu untuk jalan-jalan. Bukankah sehat jiwa raga adalah kekayaan berharga?


Kamis, 01 Februari 2018

Bothokan, Lauk Kukus yang Selalu Dirindukan

Februari 01, 2018 0 Comments

Sama seperti saya, Almarhumah Emak saya pun tak begitu suka memasak. Tapi tetap saja, sebagai penguasa dapur, punya dong, masakan andalan.

Kalo saya pede dengan rawon, Emak saya dulu punya bothokan sebagai andalan. Bothokan buatan Emak sangat sedap dan rasanya khas. Aroma daun pisang dan rasa bahan-bahan yang terbungkus di dalamnya, begitu menggugah selera.

Mbah Kakung saya amat menyukainya. Maka tiap usai masak, Emak biasanya buru-buru menyuruh saya mencari Mbah Kakung agar beliau berkenan makan di rumah kami. Saat menyantapnya, Mbah Kakung memang tampak lahap. Masakan ini pula yang biasa dimasak Emak untuk menyambut kedatangan paman yang tinggal di ibukota, dan hanya bisa pulang sesekali.

Bothokan ala Emak isinya tahu, tempe, teri dan sayur. Sayur yang dipakai hanya satu macam di antara dua pilihan, yaitu sayur boros atau sayur daun singkong. Kalau saya, lebih suka daun boros karena teksturnya renyah dan aromanya wangi.

Daun boros yang dipakai untuk bothokan, adalah daun yang masih kuncup berikut batang semunya yang bagian dalam dan masih berwarna putih. Saya sangat senang saat diminta ibu untuk menyiangi daun boros karena aromanya yang khas terasa segar dirasa oleh indera penciuman saya.

Bagi yang belum pernah melihat wujud daun boros, daun boros yang saya maksud di sini adalah daun dari tanaman berimpang sebangsa kunyit. Sebagian masyarakat menyebutnya sebagai tanaman lempuyang dan biasa memakai umbinya untuk jamu.

Saat sudah mengembang, bentuk dan susunan daun boros mirip dengan daun lengkuas. Tetapi, batang semu tanaman boros tidak setinggi batang semu lengkuas. Rata-rata tingginya kurang dari 50 cm. Sebagian orang menyebutnya tanaman lempuyang.

Proses pembuatan bothokan ala Emak saya cukup mudah, walaupun agak ribet menurut saya, hehe. Daun boros yang hendak dipakai, disiangi dulu alias diambil bagian dalamnya saja, cuci, lalu potong-potong halus. Bila memakai daun singkong, maka setelah disiangi, dicuci dan dipotong halus, daun singkong harus direndam air panas sejenak. Setelah beberapa saat, air rendaman dibuang, barulah daun singkong siap digunakan.

Bumbu yang dibutuhkan adalah bumbu lodeh pada umumnya, yaitu bawang merah, bawang putih, cabe kecil, kemiri, ketumbar, garam, gula, kencur dan lengkuas. Semua bumbu ini dihaluskan. Sementara bahan yang lain adalah tahu dan tempe mentah dipotong kecil-kecil, teri yang sudah direndam air panas dan kelapa muda parut.

Cara membuatnya, tinggal meyampurkan semua bahan ke dalam baskom, tambahkan kelapa muda parut dan bumbu halus. Aduk hingga tercampur rata, lalu bungkus dengan daun pisang sedikit demi sedikit hingga semua habis. Jangan lupa disemat ya, agar bungkusan tidak terbuka. Kukus di dalam dandang yang telah beruap selama kurang lebih 40 menit. Angkat, rapikan daun pembungkus, siap disajikan. Agar lebih lengkap, bothokan ini dihidangkan bersama sambal tomat, kerupuk dan nasi hangat tentunya.

Saya senang makan dengan lauk yang dikukus seperti ini karena lebih sehat. Bothokan benar-benar dimasak tanpa minyak dan tanpa lemak hewani. Kandungan gizi di dalamnya didominasi protein nabati beserta vitamin dan mineral dari sayuran.

Sayur boros atau lempuyang itu sendiri, ternyata banyak manfaatnya loh. Menurut tanamanhiasdaun.com, boros berkhasiat sebagai penambah nafsu makan, anti diare, anti kanker dan sebagai pelangsing tubuh.

Buat yang lagi diet, bagus sekali mengonsumsi bothokan daun boros. Asal ingat tidak terlalu banyak nambah nasi, agar berat badan tetap terkendali.

Jumat, 26 Januari 2018

Hidangan Pertama untuk (Calon) Suami

Januari 26, 2018 0 Comments

Dulu, saya enggak begitu suka memasak. Tapi semenjak merantau ke ibukota propinsi dan hidup sebagai anak kos, mulailah saya belajar turun ke dapur. Habis gimana lagi, kalo makan beli di warung terus, bisa bangkrut kan? Hehe… Apalagi saya hanyalah karyawati junior dengan gaji yang tak seberapa.

Karena dulu saat di rumah saya juga jarang membantu Emak di dapur, otomatis kamus perbumbudapuran saya minim. Dan itu berbanding lurus dengan kemampuan saya dalam hal menyulap bahan makanan mentah menjadi layak makan.

Tak disangka, suatu ketika seorang karyawan dari kantor pusat perusahaan tempat saya bekerja, ditugaskan ke proyek yang dibawahi kantor cabang, tempat saya bekerja. Singkat kata, setelah berkenalan, doi pedekate. Dan kami sepakat untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Tak butuh waktu lama untuk saya naik pangkat menjadi calon istri sang karyawan.

Hal itu membuat saya galau dan mulai memikirkan cara meningkatkan skill saya dalam bidang masak memasak. Sesuai nasehat orang tua jaman dulu, bahwa tresna jalaran saka madaran kan? Hehe… Artinya, rasa cinta bisa ditumbuhkan dari sejahteranya perut. Dimasakin gitu.

Mulailah saya suka mengumpulkan resep masakan dari tabloid atau majalah. Jika ada waktu, resep masakan yang bahannya murah dan mudah didapat serta mudah cara memasaknya, akan saya eksekusi.

Sayangnya, keterbatasan waktu membuat saya kadang berkesperimen di saat yang tidak tepat. Seperti yang terjadi pada suatu pagi.

Hari itu jadwal saya harus mengunjungi proyek yang berlokasi di luar kota. Otomatis saya akan bertemu dengan calon suami saya yang memang lokasi kerjanya di proyek tersebut.

Sebagai calon istri yang baik, pingin dong sesekali mencoba membawakan bekal buat dimakan berdua. Masak minta ditraktir terus. Malu, hehe… Saya mah gitu orangnya. *tutup muka

Pagi-pagi saya segera berbelanja sayur. Rencananya saya mau bikin sayur bening bayam dengan bakwan jagung sebagai lauk. Simpel banget kan?

Usai belanja, jagung segera saya kupas, cuci, serut, lalu diuleg bersama dengan bumbu-bumbunya. Sambil menguleg, saya merebus air untuk membuat sayur bayam. Tak lupa bayam yang sudah saya cuci dan potong-potong, langsung saya masukkan panci. Biar empuk, pikir saya. Sumpah! Saya nggak tahu kalau bayam itu cepet lembek, haha…

Kekeliruan besar itu saya ketahui saat ibu kos saya yang sudah seperti ibu saya sendiri, iseng membuka tutup panci dan terkejut melihat isinya.

Saya ingat betul kalimat beliau saat itu, “Hei, Jeng. Mau bikin sayur apa ini? Kalaupun sayur bening, nggak satu sungai gini airnya. Trus bayamnya, kok sampe gelap mateng banget gini? Ini nggak layak dimakan, buang saja.”

Saya melongo, antara malu, terkejut dan panik. (Duuh, di paragraf ini saya ngakak dulu ya. :D) Jarum jam kian bergeser ke kanan. Saya harus segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor agar tidak terlambat.

Ibu kos membaca kebingungan saya. Segera beliau meminta saya membeli bayam lagi sementara beliau akan membantu menggoreng si bakwan jagung. Saya nggak membantah.

Pulang dari warung sayur, bakwan jagung sudah matang. Si bayam, langsung diminta ibu kos untuk beliau tangani. Dan saya, mandi dong.
Usai berdandan, saya tinggal menenteng tas kerja berikut rantang yang sudah terisi bekal. Menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, akhirnya saya tiba di kantor proyek.

Rantang saya letakkan di atas meja kerja. Dan saat Si Mas bertanya mau pesan apa untuk makan siang, dengan pedenya saya jawab, “Aku nggak pesan. Mas juga nggak usah. Kali ini kita makan bekal yang kubawa ya?.”

Si Mas terlihat bahagia.

Waktu makan siang pun tiba. Si Mas masuk ke ruanganku. Sang manajer yang biasa makan bersama kami, memilih membiarkan kami makan berdua di ruangan saya. Sementara rekan-rekan yang lain, berdeham –dehem menggoda kami.

Saya pun segera membuka rantang. Hmm… Daun bayam yang dimasak bening itu tampak segar menggoda. Kontras dengan layunya warna sayur bayam yang tadi disuruh buang oleh ibu kos. Aroma temu kunci yang berpadu dengan wanginya daun kemangi, segera berebut masuk rongga hidung kami. Begitu pula aroma bakwan jagung yang juga ditambahi temu kunci sebagai bumbu di dalam adonannnya. Tak kalah menggoda.

Si Mas melihat makanan yang terhidang di meja dengan takjub, apalagi saya. “Wah, ternyata Adik pintar masak, ya?” Pujinya pada saya.
Saya pun tersenyum, tapi tak mengiyakan.

Sambil makan dengan lahap, Si Mas bercerita, bahwa dia dulu nggak doyan sayur bening bayam. Tapi katanya masakan saya beda, aromanya wangi dan rasanya pun sangat enak. Sedangkan bakwan jagung, itu adalah favoritnya. Kelak kalau kami sudah menikah, dia nggak keberatan dimasakin seperti itu sering-sering.

Selama makan, Si Mas terlihat sangat bahagia. Sebaliknya, saya jadi bingung dan tak enak hati. Haruskah saya mengatakan yang sebenarnya? Tapi kan malu. Karena dia sudah memuji saya sedemikian rupa. Tapi jika tidak saya katakan, hati ini kok nggak sreg. Seperti menipu, walaupun enggak.

Akhirnya saya mengambil keputusan. Sambil membereskan rantang kosong, saya bertanya, “Mm, makanannya enak?”

“Iya, enak banget. Makasih ya.” Jawab Si Mas sambil masih tersenyum,”Mas bener-bener nggak nyangka, Adik bisa masak.”

“Mmm, anu. Sebenernya itu tadi bukan aku yang masak, tapi ibu kos.”

“Ha? Oh? Begitu? Ya, nggak papa sih. Nggak papa, Dik. Serius.” Si Mas merespon pengakuan saya sambil tergagap dan menahan senyum.

“Jadi, yang tadi Mas bilang pinter masak dan masakannya enak, itu bukan aku. Tapi ibu kos. Ibu kos yang harusnya Mas puji. Kalau aku, aku nggak bisa masak.”

Entah bagaimana wajah saya saat itu. Tapi saya lega dengan kejujuran saya. Kemudian saya katakan pada Si Mas tentang kekurangan-kekurangan saya yang lain. Dan Alhamdulillah, Si Mas nggak keberatan, hehe… Kini, kami telah melewati 18 tahun hidup bersama. *Alhamdulillah lagi. :D

Ada dua hikmah yang saya dapat dari kejadian konyol ini. Yang pertama, jujurlah dalam setiap kesempatan. Karena dengan jujur, pikiran akan tenang. Tak apa tak mendapat pujian dari orang yang kita harapkan, tapi setidaknya kita tak perlu menipu diri dengan terus berpura-pura hebat. Toh, belum tentu si dia nggak menerima. Bukankah ada pepatah, tak kan lari gunung dikejar. Tak kan datang jodoh bila pesona tak ditebar. Eeh, nggak nyambung, hehe…

Hikmah yang kedua, jangan mudah putus asa dalam meraih impian. Teruslah bersemangat dalam berusaha. Ingin bisa memasak, teruslah belajar memasak. Walaupun tak jadi chef di restoran bertaraf internasional, setidaknya kau jadi chef di dapurmu sendiri. Sekarang saya sudah punya menu andalan loh.Rawon salah satunya, hehe...

Pun demikian bila ingin jadi penulis. Teruslah berlatih merangkai kata. Jikapun tak menjadi pujangga, setidaknya goresan penamu memberi makna pada hidup sesama. Eaa…

Rabu, 24 Januari 2018

Wedang Jahe, Minuman Hangat Penghilang Penat.

Januari 24, 2018 0 Comments

Di antara semua anggota keluarga, saya adalah yang paling nggak tahan dingin. Itu sebabnya saya lebih bahagia di musim kemarau dari pada di musim hujan. Juga lebih nyaman ke pantai daripada ke gunung.

Saat kedinginan, tubuh saya tak hanya menggigil, tapi perut pun terasa mulas. Kondisi ini cukup menyiksa terutama bila saya harus antar jemput anak sekolah di musim hujan. Jas hujan dan helm sering kali tak cukup melindungi tubuh saya dari hawa dingin yang menerpa.

Bila tak sengaja kehujanan, maka setelahnya beberapa pekerjaan saya akan tertunda. Hal ini karena saya harus mencari kehangatan dengan berlindung di balik selimut sementara waktu, guna menetralisir suhu dan kondisi tubuh saya.

Maka dari itu, saya selalu sedia bahan untuk membuat minuman hangat. Kopi, teh dan jahe adalah beberapa bahan yang saya pilih karena praktis penyiapannya. Tetapi, mengingat manfaatnya, saya lebih memilih membuat wedang jahe bila tersedia ketiganya.

Cara menyiapkannya sangat mudah. Pertama rebus air. Sambil menunggu air mendidih, siapkan rimpang jahe secukupnya, cuci bersih lalu geprek. Jahe yang digeprek bisa dikupas lebih dahulu, bisa juga tidak. Saya sendiri lebih suka tanpa dikupas. Berikutnya, taruh jahe geprek ke dalam gelas atau cangkir, tambahkan sedikit gula, lalu tuangkan air yang sudah mendidih. Wedang jahe pun siap dinikmati.


Wedang jahe, selain untuk menghangatkan tubuh, ternyata memiliki banyak khasiat yang lain. Menurut sebuah artikel kesehatan dari Liputan6.com, jahe juga mampu mempercepat metabolisme, mengurangi lemak pada orang yang mengalami obesitas, sebagai antioksidan, mengatur kadar lemak jahat atau kolesterol, menjaga kesehatan jantung serta membantu mengurangi kelelahan atau rasa sakit pada sendi dan otot.

Bagi saya, kenikmatan minum wedang jahe adalah saat saya merasa sangat kedinginan setelah kehujanan. Tapi tak jarang saya juga menyeruputnya saat pagi sebelum sarapan. Saat diminum, aroma jahe yang khas berlomba dengan kehangatan wedang, merasuk ke dalam tubuh saya melalui kerongkongan. Rongga dada saya pun terasa segar dan nyaman karenanya. Rasa tegang pada otot-otot tubuh saya, terasa lebih longgar.

Sesekali, saya juga suka menikmati minuman hangat selain wedang jahe. Beruntungnya tinggal di Indonesia yang memiliki keragaman budaya termasuk kulinernya, sehingga membuat saya berkesempatan mengenal berbagai minuman hangat dari berbagai daerah.

Di daerah asal saya yaitu Jawa Timur, saya mengenal ronde. Ronde adalah air rebusan jahe yang dicampur gula, santan, pandan dan sere. Kuah ini diberi isian berupa potongan roti, mutiara, kacang tanah sangrai dan ketan. Rasanya manis, gurih dan hangat tentu saja.

Sedangkan di tempat tinggal sekarang, yang sering saya temui adalah bandrek, bajigur di siang hari dan sekoteng di malam hari. Bandrek dan bajigur hampir sama. Yang membedakan adalah bajigur mengandung campuran gula merah. Pedagang bajigur biasanya juga menjual umbi-umbian rebus dan kue tradisional sederhana. Sekoteng mirip dengan ronde, tetapi kuahnya tanpa santan dan isiannya tanpa ketan, tetapi ada kolang kaling di dalamnya.

Masih ada minuman hangat lainnya dari pelosok nusantara seperti wedang uwuh, bir pletok, kembang tahu, wedang secang dan lain-lain. Tetapi, favorit saya tetaplah si bening wedang jahe. Bagaimana dengan Anda?

Selasa, 23 Januari 2018

Mau Wisata Murah tapi Tetap meriah, Perhatikan Lima Hal Ini.

Januari 23, 2018 0 Comments

Setelah penat berkutat dengan rutinitas sehari-hari, setiap orang sebaiknya berekreasi atau berwisata. Rekreasi dibutuhkan untuk membuat tubuh dan pikiran kembali rileks.

Banyak manfaat yang bisa didapatkan melalui kegiatan wisata. Berwisata bisa membuat seseorang terhindar dari stress bahkan depresi. Terutama bagi mereka yang sedang atau telah tertimpa masalah, berwisata membuat diri melupakan sejenak beban pikiran. Dengan segarnya pikiran, semangat akan terisi kembali. Otak pun akan lebih mudah menyelesaikan masalah dan menelurkan ide-ide baru.

Selain menyegarkan pikiran, berwisata juga bisa menambah pengetahuan. Seperti yang kita ketahui, dewasa ini banyak berdiri sarana rekreasi dengan tujuan edukasi. Sarana yang menyebut diri sebagai education park ini, selain bisa mengajak bersenang-senang, juga bisa membuat kita mengetahui banyak hal. Yang demikian, sangat bermanfaat terutama untuk pelajar.

Sedikit atau banyak, berwisata pasti membutuhkan biaya. Mulai dari biaya transport, makan, tiket masuk area wisata serta untuk pembelian oleh-oleh alias souvenir. Tetapi, apabila direncanakan dengan seksama, biaya-biaya tersebut tentu bisa ditekan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar wisata kita tak membutuhkan banyak biaya.


Rencanakan tujuan

Yang utama, tentukan tujuan. Sebaiknya pilih lokasi wisata yang tidak membuat kita merogoh kantong terlalu dalam. Museum atau taman kota bisa menjadi pilihan. Selain biaya masuknya murah atau bahkan gratis, pertimbangkan jarak dari rumah menuju lokasi.

Transportasi

Mau ke tempat tujuan naik apa? Ini pertanyaan yang harus segera disiapkan jawabannya. Akan lebih baik jika jauh-jauh hari sudah membeli tiket, apalagi jika bisa mendapat tiket promo yang tentu harganya lebih murah daripada tiket regular.

Bawa perbekalan dari rumah

Ini hal yang tak kalah penting. Jamak kita jumpai, harga makanan di tempat wisata terbilang fantastis. Agar terhindar dari pemborosan, sebaiknya bawa makanan dan minuman dari rumah. Selain lebih sehat dan higienis, tentu biayanya juga lebih murah. Hal yang sama berlaku untuk pakaian dan peralatan yang mungkin dibutuhkan selama berwisata.


Hindari akhir pekan

Ada beberapa tempat wisata yang memberlakukan harga tiket masuk lebih mahal pada saat hari libur atau akhir pekan. Hal ini sebaiknya diketahui agar biaya wisata tak melebihi anggaran yang tersedia. Selain itu, arus lalu lintas menuju tempat wisata biasanya cenderung ramai dan macet saat akhir pekan.

Souvenir

Bila tidak perlu atau tidak terlalu bermanfaat, hindari membeli souvenir. Bukan berarti tak perlu kenang-kenangan, tapi souvenir tersebut bisa kita beli pada saat kondisi keuangan sudah lebih baik.

Demikian lima hal yang perlu diperhatikan agar kita tetap bisa berlibur walau dengan anggaran yang terbatas.


Senin, 22 Januari 2018

Rawon, Menu Andalan Kala Dompet Lagi On

Januari 22, 2018 0 Comments

Sebagai seorang ibu, saya merasa gembira luar biasa ketika masakan yang udah susah payah saya siapin, dihabiskan oleh suami dan anak-anak. Saya sih enggak terlalu mahir masak, tapi ada dong, salah satu salah dua menu andalan saya yang jadi favorit mereka.

Salah satunya adalah rawon. Masakan khas Surabaya ini juga menjadi favorit saya sejak kecil. Meskipun warna kuahnya hitam pekat karena pengaruh salah satu rempah yang dipakai, selera saya tetap tergoda kala melihatnya tersaji, hehe...

Bagi saya, rawon bukan sekedar masakan. Dia adalah kenangan. Dia adalah reward. Dia adalah bukti kasih sayang yang teramat besar dan juga lambang perjuangan seorang ibu untuk buah hatinya. Ada hubungan yang erat antara saya, Emak dan rawon. Duuuh, jadi baper ngomongin rawon, eh Emak.

Kembali ke rawon. Suatu ketika suami mengabari kalo dia sedang makan malam dengan koleganya di sebuah restoran di hotel berbintang. Menu yang dia pilih saat itu, tak lain dan tak bukan adalah menu favorit saya. Yess! Rawon. Usai makan, dia mengirim pesan ke saya melalui ponselnya, “Rawonnya, jauh lebih enak buatan Mama.”

Wuidiiiih, berasa melayang saya dapat pujian begitu, haha… *norak yo ben.


Baiklah, buat yang belum kenal gimana itu rawon, sini, saya bisikin.

Rawon adalah masakan yang terbuat dari daging sapi. Biasanya yang dipakai adalah daging sanding lamur alias daging yang mengandung lemak. Tetapi, demi alasan kesehatan, saya biasa bikin rawon dengan daging has dalam yang tanpa lemak. Sesekali aja saya tambahkan sanding lamur sedikit. Bahan lain, kol dan daun bawang prei.

Bumbu yang dipakai antara lain, bawang merah, bawang putih, lada, pala, ketumbar, jinten, garam, gula, sere, jahe, laos dan daun jeruk. Dan yang wajib ada, tentu saja kluwek alias pucung. Tanpa kluwek, bukan rawon namanya. Tanpa kluwek, rawon ibarat sambal tanpa cabe. Hampa, Kakaaak.

Cara memasaknya juga cukup mudah, walaupun agak lama. Pertama, daging direbus dulu. Sambil menunggu daging empuk, semua bumbu kecuali sere dan daun jeruk, dihaluskan dan ditumis, Daging yang sudah agak matang diangkat, lalu dipotong kecil-kecil. Rebus kembali bersama tumisan bumbu halus. Tambahkan kol, sere, jahe, laos dan daun jeruk. Kira-kira lima menit sebelum diangkat, masukkan daun bawang prei. Hidangkan rawon bersama sambal terasi yang dibubuhi tauge mini, empal sapi, tempe goreng, telur asin dan kerupuk udang.

Sedikit catatan, rawon akan lebih maknyus kalo diinapkan terlebih dahulu. Jadi, saya biasa memasaknya malam hari dan baru mulai menikmatinya untuk sarapan keesokan harinya. Mungkin karena saat itu bumbu-bumbu dalam kuahnya sudah lebih meresap ke dagingnya. Percayalah, walaupun penampakannya hitam, rasanya wuenak tenaaaan.

Rabu, 10 Mei 2017

Aktivitas yang Bisa Dilakukan Saat Menunggu Antrian Bersama Anak

Mei 10, 2017 0 Comments
Dalam beraktivitas sehari-hari, tak jarang Emak harus pergi ke luar bersama si kecil dan mengantri untuk suatu urusan. Bila mengantri hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tentu tak jadi soal. Tapi bagaimana bila mengantri hingga lebih dari satu jam?


Menunggu antrian dalam waktu yang cukup lama, tentu membosankan. Apalagi bagi si kecil yang memang masih suka menghabiskan waktu dengan bermain dan berlarian ke sana ke mari.

Agar si kecil tenang ketika Emak mengajaknya mengantri, ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan bersamanya.

Mengajaknya mengobrol

Mengobrol bisa membuat waktu terasa cepat berlalu. Melalui obrolan, Emak bisa menyisipkan nasihat tentang pentingnya mengantri. Mengantri adalah salah satu cara mengajari anak bersabar dan menghormati hak orang lain.

Bila ada seseorang menyerobot antrian, Emak bisa mengatakan pada si kecil, bahwa itu adalah contoh yang tidak baik dan tak boleh ditiru. Menyerobot antrian sama dengan merampas hak orang lain. Jika ingin mendapat giliran lebih dahulu, tentu harus datang lebih awal.

Selain nasehat, Emak juga bisa mengajaknya mengobrol tentang kegemaran maupun kegiatannya di sekolah. Antusiasnya bercerita akan membuatnya menikmati waktu dan tak lagi merasa bosan.

Membaca buku

Sebelum pergi, sebaiknya menyiapkan satu atau dua buah buku kesukaannya. Jika si kecil belum bisa membaca, Emak bisa membacakan untuknya. Jika sudah bisa, Emak bisa membaca bersamanya. Tentu saja, Emak pun perlu menyiapkan buku pilihan Emak sendiri. Jadi, secara tidak langsung, Emak juga memperkenalkan budaya membaca pada si kecil.

Membawakan mainan kesukaannya

Untuk balita, mainan kadang lebih menarik dari pada buku. Untuk itu, Emak bisa membawa mainan yang mudah dibawa untuk persiapan mengantri. Misalnya, boneka atau mobil-mobilan kecil. Biarkan anak bereksplorasi di sekitar tempat antrian, asal masih dalam jangkauan pengawasan Emak.

Bermain tebak-tebakan

Bermain tebak-tebakan juga menyenangkan bagi si kecil. Asal, Emak mampu mengendalikan volume suara sehingga tidak sampai mengganggu pengantri yang lain. Tebakannya bisa dari hal yang sangat sederhana. Misalnya menebak nama dan warna benda di sekitar. Bisa juga tebakan yang Emak dapatkan dari buku atau majalah. Berikan reward bila berhasil menebak. Misalnya berupa kue dan biskuit.

Bermain game

Bermain game juga bisa menjadi variasi membunuh waktu. Tetapi, sebaiknya ini adalah pilihan terakhir, mengingat efek buruknya bagi anak. Terlalu banyak terpapar radiasi dari layar gadget, berdampak buruk bagi kesehatan mata.

Berbagai aktivitas di atas, memungkinkan si kecil untuk tetap menikmati waktunya ketika mengantri. Secara langsung, Emak juga telah memberikan teladan untuk sabar menanti giliran. Mengantri juga salah satu cara belajar disiplin dan sopan santun loh Mak.

Rabu, 24 Juli 2013

Satelit Ramadan

Juli 24, 2013 0 Comments
Menjelang Ramadan saya selalu ingat kampung halaman. Tentang kebiasaan unik di dusun kecil kami, dan tentang indahnya masa kecil saya. Ramadan adalah bulan istimewa, maka kami menyambutnya dengan suka cita.

Sehari sebelum Ramadan, para wanita biasanya sibuk membersihkan rumah secara besar-besaran. Bisa dibilang hari itu kami ‘cuci gudang’. Segala sesuatu yang biasanya luput dari perhatian, mendadak menjadi sangat penting untuk dikerjakan. Mulai dari mencuci peralatan masak yang jarang dipakai, mencuci gordyn, melap kaki-kaki kursi, hingga merapikan tanaman di sekeliling rumah. Kata ibu, agar saat puasa kita hemat tenaga dan lebih banyak waktu untuk beribadah.

Para lelaki tak mau kalah. Mereka bekerja bakti membersihkan lingkungan. Dan yang paling penting menyiapkan musala dan masjid untuk tarawih, karena jamaah yang datang pasti lebih banyak daripada hari biasa. Bila perlu mereka memboyong karpet atau tikar dari rumah masing-masing untuk diletakkan di masjid, agar siap pakai saat dibutuhkan.

Sore hari, bedug dan kentongan di masjid mulai dibunyikan dengan irama yang khas. Ini pertanda bahwa besok adalah hari pertama puasa. Kami berkumpul di sekitar masjid untuk menikmati ritual tersebut. Bunyi bedug yang bertalu-talu sungguh meriuh rendahkan hati kami. Sebelum ke masjid kami sudah mandi dan keramas. Bila tidak, jangan harap telinga kami lolos dari jeweran ortu, hehe… Ritual ini berhenti saat tiba salat asar.

Malam saat tarawih, masjid biasanya penuh dengan para santri, jadi saya lebih suka tarawih di musala dekat rumah. Tapi bapak sering mengajak saya dan kakak tarawih ke musala yang agak jauh yang mana imamnya sering membaca surat-surat panjang. Terkadang saya sampai terkantuk-kantuk dalam posisi berdiri, dan terbangun kaget karena colekan kakak atau saat mendengar makmum serentak mengucap ‘Amin…’, hihi…

Paling berkesan dan tak akan terlupakan adalah saat sahur. Sekitar dua jam sebelum imsak, imam masjid atau sesepuh mulai membangunkan warga melalui pengeras suara. Mendekati waktu imsak, suara ‘sahur-sahur…’ akan makin sering terdengar. Puncaknya adalah sepuluh detik sebelum imsak, hitungan mundurpun dimulai. Mirip saat-saat menegangkan pada peluncuran sebuah satelit. “Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu. Imsak…, imsak…, imsak…” Pada saat yang sama, bedug ditabuh bertalu-talu. Kami pun melesat bagai satelit, menuju bulan penuh ampunan.

Begitulah suasana Ramadan di kampungku, yang selalu ku rindukan hingga kini.


Selasa, 16 Juli 2013

Jangan Mudah Berprasangka Buruk

Juli 16, 2013 2 Comments
Pagi tadi, untuk kesekian kalinya, seorang asisten rumah tangga alias ART datang ke toko kecil saya untuk membeli pulsa. Setelah membayar sesuai harga, dia pun pulang. Saya segera mengisi pulsa ke nomor yang diberikannya lalu beberapa detik kemudian menerima notifikasi bahwa pulsa sudak terkirim ke nomor tersebut.

Tak lama berselang, si ART datang lagi.

"Bu, kata Eyang pulsanya belum masuk." Ujar si ART. Eyang adalah ortu sang majikan, yang menyuruhnya membeli pulsa.

"Tapi udah saya kirim tuh, Mbak, dan udah masuk." Kata saya, "Sudah dicek kah?"

"Kata Eyang sih sudah." Jawab si ART.

"Baik, tunggu sebentar, saya komplainkan ke agen ya, Mbak."

Saya pun segera mengirim SMS komplain ke agen, tapi mendapat jawaban sesuai notifikasi tadi, bahwa pulsa sudah berhasil terkirim. Tak ingin membuang waktu si ART, saya pun segera mengembalikan uang pembayaran yang telah diberikannya tadi.

"Mbak, saya sudah komplain, dan dapat jawaban bahwa pulsanya sudah terkirim. Tapi ini saya kembalikan uangnya. Tolong nanti dicek lagi ya, jika pulsanya memang belum masuk ya sudah, nggak apa-apa. Tapi kalo ternyata pulsanya sudah masuk, tolong Mbak bayar lagi kesini, ya?" Ucap saya sambil mengangsurkan uang kepadanya.

Si ART mengiyakan, dan dia pun kembali pulang.

Yang seperti ini cukup sering terjadi dan beberapa kali disaksikan oleh anak-anak saya. Awalnya mereka kurang puas melihat sikap yang diambil ibunya, karena mereka jelas membaca notifikasi yang masuk ke ponsel saya.

Tapi saya katakan, biarlah. Seandainya pulsa sudah masuk dan si pembeli berbohong, itu urusan dia. Tapi bila benar pulsanya belum masuk, setidaknya kita tidak merugikan pembeli. Terutama bila pembelinya 'orang kecil' seperti ART atau pekerja bangunan. Sungguh tak tega bila mereka yang harus kehilangan, mengingat beberapa ribu rupiah tentu sangat berharga bagi mereka. Jika ada pihak yang harus menanggung rugi, birlah kita saja.

Tak perlu khawatir akan kejujurannya. Lebih penting memelihara prasangka baik kita. Mereka yang berpenampilan sederhana belum tentu tidak bisa dipercaya. Yakinlah, segala yang sudah seharusnya menjadi hak kita, InsyaAllah akan tetap kembali pada kita. Kita hanya berusaha agar jangan sampai ada hak orang lain yang terbawa oleh kita secara sengaja, saat kita benar-benar sadar. Begitu yang saya katakan pada anak-anak.

Alhamdulillah, anak-anak cepat mengerti. Beruntungnya, selama ini kami lebih sering bertemu orang-orang yang baik dan jujur. Seperti pagi tadi, baru saja saya akan mulai mengerjakan hal yang lain, tiba-tiba si Mbak ART datang lagi.

"Bu, pulsanya udah masuk. Ini uangnya saya kembalikan lagi. Makasih ya, Bu..." Ujarnya sambil tersenyum lega.

Tuh kan......

Follow Us @soratemplates